;

Wangi Teh Malipo yang Mengatasi Kemiskinan

Lingkungan Hidup Yoga 13 May 2023 Kompas
Wangi Teh Malipo yang
Mengatasi Kemiskinan

Di kota Malipo, Distrik Wenshan, Yunnan, China, daun teh tidak hanya diracik menjadi minuman pelepas dahaga, tetapi juga disantap untuk mengusir lapar. ”Sudah lapar, ya? Semoga kalian suka teh,” kata Zheng Yulin, Minggu (23/4). Sembari menikmati teh hijau Malipo yang disajikan di gelas keramik kecil dan menanti makan siang, kami pun asyik berbagi cerita tentang keunikan teh dari negara masing-masing. Yulin mengambil sumpit dan memungut salah satu sajian yang sekilas tampak seperti tumis daging bebek dengan sayur kangkung. Guru bahasa Inggris di SMA di Malipo itu meniup-niupnya sejenak sebelum mengunyah dengan lahap. ”Ini bukan sayur, ini pucuk daun teh,” ujar Yulin. ”Semua makanan di atas meja ini terbuat dari daun teh,” lanjutnya. Benar saja, semua dedaunan hijau yang awalnya kami kira sayuran ternyata daun teh, segar dan kering, dimasak jadi beragam menu kuliner khas China. Selain tumis daging bebek dengan pucuk daun teh, ada juga longjing tea meat soup alias sup daging sapi dengan daun teh. Rasanya segar sekaligus hangat di satu suapan. Menu sup ini paling berkesan hingga kami menambah bermangkuk-mangkuk. ”Seperti lagi minum teh, tetapi ada daging sapinya,” komentar salah satu jurnalis.

Staf Kementerian Luar Negeri China di Yunnan, Shen Shenglin, mengatakan, warga Malipo terbiasa mengonsumsi daun teh sebagai makanan atau kudapan. Namun, ini pertama kalinya daun teh dicampur ke dalam semua menu khas China dan disajikan pada satu kesempatan yang sama. Inisiatif itu diambil pemerintah kota Malipo dalam rangka mempromosikan teh Malipo lebih luas lagi kepada dunia. Pohon teh kuno Yunnan memang terkenal sebagai provinsi pembuat teh. Teh paling tersohor adalah teh Pu’er dari kota Ning’er yang dulu bernama Pu’er. Teh Pu'er punya metode pembuatan unik. Daun teh difermentasi lalu dipadatkan. Produk akhinya berbentuk seperti kue atau cakram bulat, bukan tumpukan daun teh kering. The Malipo masih kalah tenar dari teh Pu’er. Festival Teh Laoshan berskala  internasional pun digelar pertama kalinya tahun ini di Malipo agar Malipo bisa mengejar popularitas Pu’er. ”Ini penting karena perkebunan teh adalah sektor penggerak ekonomi di Malipo yang berkontribusi mengangkat warga dari kemiskinan,” katanya. Festival teh itu digelar di pusat kota Malipo, di lembah yang dikelilingi pegunungan.

Pan Shuqian (40), petani dan pengusaha teh bermerek Laoshan in One Hundred, memetik daun tehnya dari pohon berusia 200 tahun. Ia tidak memiliki lahan perkebunan khusus sebagai basis produksi. ”Pohon teh kuno kami tersebar di barisan pegunungan di sini, melintasi sejumlah desa. Ada yang letaknya jauh di dalam hutan di gunung, jauh dari permukiman warga,” katanya. Teh hijau yang ia produksi memiliki sentuhan unik rasa nutty. Namun, cara membuatnya harus sesuai aturan seni menyeduh teh ala China atau gong fu cha agar rasa unik itu keluar. Shuqian pertama-tama membilas poci dan cangkir dengan air panas, sejumput daun teh dimasukkan ke poci, dan menyiramnya dengan air panas, air itu langsung dibuang. ”Ini hanya untuk ’membangunkan’ daun tehnya supaya lebih bersih dan harum,” tuturnya. Setelah itu ia mengisi poci dengan air panas untuk menyeduh hasil rebusan teh yang siap diminum. Suhu air harus tepat, sekitar 70 derajat celsius, agar kualitas rasa dan aroma teh terjaga. Shuqian bercerita, dalam rangka program penanggulangan kemiskinan Malipo, produksi teh jadi salah satu sector utama yang dikembangkan. Pemerintah memberi berbagai asistensi dan promosi untuk meningkatkan kualitas dan nilai tambah teh petani lokal. (Yoga)


Download Aplikasi Labirin :