;

Siklus Harga Anjlok dan Nasib Petani Komoditas

Lingkungan Hidup Yoga 04 May 2023 Kompas
Siklus Harga Anjlok dan
Nasib Petani Komoditas

Harga sejumlah komoditas unggulan perkebunan terus tergerus hampir sebulan terakhir. Kondisi itu disebut-sebut kerap terjadi di masa Lebaran Idul Fitri ibarat fenomena rutin yang merugikan petani. Pada akhir Maret, harga jual tandan buah segar (TBS) kelapa sawit petani masih Rp 2.500 per kg. Harga mulai tergerus awal April menjadi Rp 2.200 per kg. ”Lalu, dua pecan menjelang Lebaran, harganya turun lagi menjadi Rp 1.800 per kg,” kata Rahman, petani di Maro Sebo, Kabupaten Muaro Jambi, Jambi, Selasa (2/5). Harga komoditas yang jatuh pada masa Lebaran terus berulang. Menjelang Lebaran tahun 2022, katanya, kondisi serupa juga terjadi. Bahkan, harga TBS anjlok lebih parah, dari Rp 3.600 per kg menjadi Rp 1.100 per kg dalam waktu empat hari. Soal harga yang rutin jatuh masa Lebaran disebut-sebut petani sebagai ”potongan” yang dialokasikan pengusaha untuk THR bagi para pekerjanya. ”

Keadaan ini bagai buah simalakama bagi petani. Ketika harga TBS anjlok, mereka tetap harus memanen dengan ongkos panen yang tidak turun. Apabila TBS tidak dipanen, pohon sawit pun bisa rusak hingga mereka lebih rugi. Kondisi serupa dialami petani pinang. Harga biji pinang awal tahun lalu masih di atas Rp 20.000 per kg, lalu turun menjadi Rp 9.000 per kg pada akhir 2022. Harga pinang terus tergerus hingga kini hanya Rp 3.500 per kg. ”Jatuhnya harga kali ini yang paling parah,” kata Samsul, petani di Kumpeh, Kabupaten Muaro Jambi. Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Sumsel Alex Sugiarto berpandangan, turunnya harga TBS sawit tidak lepas dari masih lesunya pasar ekspor CPO. Apalagi sejumlah negara importir masih memiliki stok CPO yang berlimpah.”  (Yoga)


Download Aplikasi Labirin :