Berebut Gabah Saat Panen Raya
Aksi berebut pasokan ditengarai menjadi biang keladi tingginya harga gabah dan beras meski panen raya telah dimulai. Faktor lain yang mempengaruhi harga ialah menipisnya stok cadangan beras pemerintah di gudang Perum Bulog, yang per kemarin tinggal 220 ribu ton dari jumlah ideal 1,2-1,5 juta ton. Di tengah kondisi ini, usulan impor beras tambahan kembali mengemuka. Ketua Umum Persatuan Pengusaha Penggilingan Padi dan Beras Indonesia (Perpadi), Sutarto Alimoeso, menyebutkan tingginya harga gabah pada masa panen raya adalah anomali. Alih-alih turun, ia mengimbuhkan, harga gabah kering panen di tingkat petani bahkan ada yang menembus Rp 6.000 per kg, di atas harga pembelian pemerintah (HPP) terbaru yang diumumkan Badan Pangan Nasional sebesar Rp 5.000 per kg, walau payung hukum dari HPP anyar tersebut belum terbit.
"Harga gabah naik pada saat masa panen raya tidak pernah terjadi selama puluhan tahun. Berarti ada sesuatu," ujar Sutarto di kantor Kemenko Perekonomian, kemarin. Menurut dia, kendati terjadi banjir di beberapa sentra padi, produksi gabah petani sebenarnya tidak terlalu anjlok. Masalahnya, kapasitas pabrik penggilingan padi jauh lebih besar dari tingkat produksi gabah petani. Akibatnya, terjadi saling rebut pasokan gabah. Pergerakan harga makin liar lantaran pemerintah tak kunjung mengeluarkan acuan baru harga gabah dan beras secara resmi. Saat ini, HPP gabah dan beras, serta harga eceran tertinggi beras, baru sebatas pengumuman Badan Pangan Nasional dan belum ada payung hukumnya. "Masyarakat dan petani menahan barang karena belum jelas mau ke mana. Karena pemerintah tidak punya stok, mereka tidak segera menjual karena berharap harga naik," kata Sutarto.. (Yoga)
Tags :
#BerasPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023