Aksi Korporasi Besar Mengkhawatirkan Petani
Aksi korporasi besar yang menawar gabah petani dengan harga lebih tinggi daripada harga pembelian pemerintah (HPP) dipandang mengkhawatirkan dalam jangka panjang. Penguasaan Perum Bulog terhadap pasar beras domestik, mulai dari hulu hingga hilir, bisa tergerus akibat aksi korporasi swasta tersebut. Berdasarkan data BPS, rata-rata nasional harga gabah kering panen (GKP) di tingkat petani sepanjang Februari 2023 mencapai Rp 5.711 per kg. Harga ini lebih tinggi 17,78 5 dibanding Februari 2022.
Adapun HPP GKP di tingkat petani yang diumumkan Badan Pangan Nasional Rp 5.000 per kg. ”Harga gabah yang tinggi saat ini mungkin hanya bisa dinikmati petani selama tiga tahun. Nanti, kalau korporasi besar sudah menguasai pasar, kami bisa saja seperti petani sawit. Harga minyak goreng tinggi, tapi (harga) tandan buah segar tertekan,” ujar Ketua Umum Serikat Petani Indonesia Henry Saragih saat dihubungi, Minggu (19/3).
Harga GKP yang tinggi itu, lanjut Henry, disebabkan dua faktor. Pertama, biaya pokok produksi yang meningkat akibat kenaikan harga pupuk, biaya sewa lahan, upah buruh, serta sewa alat. Kedua, adanya korporasi swasta besar yang menawar gabah dengan harga tinggi.Pasar beras domestik, menurut Henry, makin menarik lantaran selisih harga gabah dan harga eceran tertinggi (HET) beras premium Rp 8.000 per kg. Korporasi besar dengan modal kuat memproses gabah menjadi beras premium, sedangkan penggilingan kecil yang hanya mampu mengolahnya menjadi beras medium akan tutup tak beroperasi. (Yoga)
Tags :
#BerasPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023