Stabilisasi Beras Hadapi Tantangan Ganda
Pemerintah menghadapi tantangan ganda dalam menstabilkan harga beras. Di hulu, harga gabah di tingkat petani anjlok dan kadar airnya tinggi sehingga belum tentu dapat diserap untuk cadangan beras pemerintah. Di hilir, hasil panen belum optimal untuk menstabilkan harga beras. Harga gabah cenderung turun menjelang panen raya tahun ini. BPS mendata, rata-rata nasional harga gabah kering panen (GKP) di tingkat petani turun 2,16 % dari Rp 5.837 per kilogram (kg) pada Januari 2023 menjadi Rp 5.711 per kg pada Februari 2023. Sementara menurut data Serikat Petani Indonesia, harga GKP di tingkat petani di Bojonegoro, Tuban, Lamongan, Gresik, dan Mojokerto, Jatim, menyentuh angka Rp 3.500 per kg. Sebelumnya, harga GKP di tingkat petani di wilayah tersebut berkisar Rp 5.600 per kg.
Di sisi lain, harga beras di tingkat konsumen cenderung meningkat. BPS mencatat, rata-rata nasional harga beras di tingkat pedagang eceran meningkat 2,63 % dari Rp 12.371 per kg pada Januari 2023 menjadi Rp 12.699 per kg pada Februari 2023. Direktur Perencanaan dan Pengembangan Perum Bulog periode 2007-2009 sekaligus pengamat pertanian Universitas Cokroaminoto, Yogyakarta, Mohammad Ismet, Kamis (2/3/2023) mengatakan, ketidakstabilan harga itu disebabkan belum meratanya panen yang masih terjadi di sentra produksi tertentu, ditambah Fasilitas mesin pengering masih terbatas. Padahal, meningkatnya hasil panen membuat harga gabah di tingkat petani cenderung menurun sehingga harga kian anjlok. (Yoga)
Tags :
#BerasPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023