Sepoi-sepoi Investasi dan Perdagangan
Pertumbuhan perdagangan barang global akan turun menjadi 3 % pada 2022 dan 1 % pada 2023. Penurunan juga diperkirakan terjadi pada aliran masuk investasi asing langsung global. Kenaikan suku bunga global menjadi penyebab utamanya. Akan tetapi, posisi ekspor dan aliran investasi asing ke Indonesia diperkirakan relatif aman. Berdasarkan laporan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) per 23 Agustus 2022, nilai perdagangan global saat puncak pandemi turun 7,18 %, dari 19 triliun USD pada 2019 menjadi 17,65 triliun USD pada 2020. Nilai perdagangan global berangsur pulih menjadi 22,33 triliun USD pada 2021 atau naik 26,52 % dari 2020. Namun pada 2022 dan 2023, pertumbuhan perdagangan global kembali menurun walau tak terkontraksi. Selain karena kenaikan suku bunga global, penurunan perdagangan global pada 2022 terjadi akibat efek invasi Rusia ke Ukraina dan hambatan ekspor. Hingga pertengahan Oktober 2022, hambatan ekspor yang diterapkan G20 berkurang 77 % dan tinggal 17 jenis larangan ekspor. Namun hambatan yang masih ada telah menahan perdagangan barang global senilai 122 miliar USD. Hambatan itu termasuk perdagangan pangan dan pupuk, tetapi ada optimisme. Seperti diberitakan Xinhua, 23 November 2022, Presiden Rusia Vladimir Putin siap memulai pasokan pupuk.
Penyebab lainnya adalah efek fragmentasi dan keterpecahan dalam perdagangan global, seperti dikatakan Dirjen Perdagangan WTO Ngozi Okonjo-Iweala di Sydney, Australia, Kamis (24/11). ”Fragmentasi mengancam perdagangan multilateral,” katanya. Semua faktor itu membuat perdagangan global pada 2023 diperkirakan hanya tumbuh 1 %. Akan tetapi, Indonesia tidak akan terpukul keras. Meski ada dampak, efeknya tidak signifikan. ”Efek ke Indonesia bersifat mild,” kata Agustinus Prasetyantoko, ekonom Universitas Atma Jaya Jakarta. Direktur Bank Pembangunan Asia (ADB) untuk Indonesia Jiro Tominaga, Rabu (21/9), di Jakarta. ”Ekspor komoditas Indonesia mengalami booming,” katanya. Permintaan terhadap ekspor komoditas mendukung pertumbuhan dan mendorong penerimaan negara. Namun, masalah dihadapi perusahaan-perusahaan eksportir dengan tujuan ke negara-negara bermasalah. Ekspor nonmigas terlihat menurun ke Pakistan, Sri Lanka, dan sejumlah negara yang bermasalah dengan utang luar negeri. Masalah juga muncul bagi eksportir tekstil dan alas kaki ke pasar AS dan Eropa. Ada masalah bagi perusahaan dengan konsekuensi PHK. ”Khusus bagi perusahaan eksportir manufaktur, ada penurunan tajam,” kata Yose Rizal Damuri, ekonom dari Center for Strategic and International Studies (CSIS) Jakarta. Meski demikian, secara makro ekspor Indonesia tidak terpengaruh besar. Ekonom ADB, Albert Park, berpendapat Asia tak akan didera masalah moneter. Setelah mobilitas pulih, ekonomi Asia kembali mengalami pemulihan permintaan. Program-program ekonomi yang tertunda akan kembali berjalan. (Yoga)
Postingan Terkait
KETIKA PERAK TAK LAGI SEKADAR LOGAM
Potensi Tekanan Tambahan pada Target Pajak
Lonjakan Harga Komoditas Panaskan Pasar
Arus Modal Asing Bersiap Masuk
Ketegangan AS–Iran Tekan Sentimen Pasar Global
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023