Momentum G20
Keberhasilan penyelenggaraan KTT G20 di Bali pada 15-16 November bukanlah keberuntungan, tapi buah kerja keras, tidak hanya dalam penyelenggaraan acara, tetapi juga ketekunan melakukan transformasi ekonomi. Konsistensi dan kelenturan menjadi penentu disepakatinya Deklarasi Bali (G20 Bali Leaders’ Declaration). Presiden Jokowi adalah satu-satunya pemimpin yang bertemu langsung dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy, Presiden Rusia Vladimir Putin, Presiden China Xi Jinping, dan Presiden AS Joe Biden untuk melenturkan ketegangan geopolitik global. Banyak pihak, bahkan pemerintah sendiri, sebelumnya pesimis KTT G20 akan menghasilkan kesepakatan. KTT Bali menghasilkan deklarasi yang merangkum kesepakatan: Dalam penanganan pandemi, disepakati terbentuknya Pandemic Fund dengan komitmen awal 1,5 miliar USD. Guna menambah kemampuan Dana Moneter Internasional membantu negara yang terdampak krisis, disepakati Resilience and Sustainability Trust dengan komitmen awal 81,6 miliar USD. Disepakati juga terbentuknya Just Energy Transition Partnership untuk Indonesia senilai 20 juta USD.
Majalah The Economist (19/11) mengangkat tema utama mengenai Indonesia dengan tiga artikel panjang sekaligus dalam satu edisi. Salah satunya berjudul ”Why Indonesia Matters”. Pertemuan G20 membuat Indonesia kembali menjadi sorotan dunia, menurut The Economist. Indonesia terakhir kali menjadi perhatian dunia saat krisis Asia 1998 ketika menjadi bagian dari episentrum persoalan. Sekarang, bersama India, Indonesia dianggap sebagai raksasa Asia yang mendapat momentum pergeseran geopolitik dengan titik sentral AS dan China. Alasan Indonesia diperhitungkan adalah kinerja ekonomi yang meyakinkan. Momentum G20 perlu ditindaklanjuti dengan kerja keras di berbagai bidang. Di bidang energi terbarukan, Indonesia berpotensi menjadi salah satu penghasil energi terbarukan terbesar di dunia. Memanfaatkan bonus demografi yang melek teknologi, Indonesia jadi salah satu inkubator sektor teknologi yang ditopang tenaga muda kreatif dan inovatif.
Terkait inovasi digital, Indonesia menunjukkan kepemimpinannya. Menjelang KTT G20, lima bank sentral ASEAN (Thailand, Malaysia, Singapura, Filipina, dan Indonesia) sepakat menggunakan sistem pembayaran terintegrasi berbasis digital atas inisiatif BI. Di sektor swasta, kepemimpinan Indonesia di bidang digital juga diakui. Hingga April 2022 ada 2.354 unit usaha rintisan berbasis teknologi (start up) di Indonesia, terbanyak di Asia. Disusul Singapura dengan 1.013 unit usaha rintisan. Dengan dua perusahaan berstatus decacorn dan delapan unicorn, Indonesia menunjukkan potensi pengembangan sektor digital. Kerja keras Indonesia selama ini tidak mengkhianati hasil. Keberhasilan memimpin KTT G20 dengan banyak pujian hanyalah bagian dari upaya transformasi (ekonomi) Indonesia. Momentum yang sudah dicapai dalam KTT G20 perlu diteruskan. Ada begitu banyak jendela kesempatan yang terbuka. Kerja keras dan konsistensi merupakan kunci melanjutkan transformasi yang sudah dimulai. (Yoga)
Postingan Terkait
Arus Modal Asing Bersiap Masuk
Danantara Gencar Himpun Pendanaan
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023