;

Ekonomi Biru Berbasis Masyarakat

Ekonomi Yoga 14 Nov 2022 Tempo
Ekonomi Biru Berbasis Masyarakat

Ekonomi biru (blue economy) menjadi salah satu topik yang mencuat dalam Konferensi Perubahan Iklim ke-27 (COP27) di Mesir saat ini. Bank Dunia, misalnya, menggelar seminar mengenai potensi ekonominya. Dana Investasi Eropa (EIF), dana Uni Eropa untuk mendukung UMKM,  menggelontorkan 28 juta euro atau hampir Rp 450 miliar untuk pengembangan ekonomi biru. Konsep dasar ekonomi biru, yang ditekankan Gunter Pauli (2010), adalah keberlanjutan produksi dan kesehatan ekosistem perikanan serta kelautan. Keberlanjutan akan dapat terjamin dengan adanya ekosistem yang sehat dan minim sampah (zero waste) dari proses produksi.

Sektor ekonomi kelautan, motor utama penggerak ekonomi biru, masih dihadapkan pada kesenjangan pendapatan. Komposisi nelayan anak buah kapal (ABK) kapal kecil, yang masih bergantung pada sistem bagi hasil, masih berpendapatan rendah dibanding upah minimum regional. Sementara itu, pada industri budi daya, yang juga terombang-ambing untuk maju, memunculkan ketidakpastian sebagai sektor ekonomi biru di masa depan. Sejalan dengan itu, industri pengolahan ikan, yang 90 % merupakan kelompok UMKM, belum terpetakan tingkat kesejahteraannya. Ribuan tenaga kerja pengolah hanya berpenghasilan sesuai kemampuan usaha individu, bahkan cenderung dengan pola subsistem.

Dengan fakta ini, pilar kesejahteraan dalam ekonomi biru menjadi pekerjaan rumah bersama. Jika pemerintah melalui Kementerian Koordinator Kemaritiman dan Investasi serta Kementerian Kelautan dan Perikanan melihat ekonomi biru sebagai pilihan, tindakan revolusioner untuk mengubah potret ekonomi kelautan harus dilakukan. Kita tidak boleh lagi bekerja dengan pendekatan bisnis yang biasa (business as usual) kalau ingin merengkuh kesejahteraan dari ekonomi kelautan. (Yoga)


Download Aplikasi Labirin :