;

Hasil Uji Lab: Gas Air Mata Picu Kematian

Hasil Uji Lab:
Gas Air Mata
Picu Kematian


Tim investigasi harian Kompas mendapatkan dua dokumen hasil pengujian laboratorium atas sampel gas air mata yang ditembakkan polisi di Stadion Kanjuruhan usai laga Arema FC melawan Persebaya Surabaya di ajang BRI Liga 1 Indonesia, Sabtu (1/10). Hasil uji pada dua laboratorium ini mengungkap, selain senyawa CS yang menjadi komponen utama gas air mata, setidaknya ada empat senyawa lain yang ditemukan. Hasil uji laboratorium salah satu perguruan tinggi negeri di Jatim menemukan, komponen utama gas air mata adalah O-chlorobenzylidene malononitrile sebanyak 49,6 %. Senyawa ini dikenal dengan sebutan CS. Namun, ada empat komponen ikutan hasil penguraian CS yang ditemukan, yakni 2-chlorobenzaldehyde (36,5 %), 0-chloropropylbenzene (11,6 %), benzene (1,2 %), dan benzyl dichloride atau p-Chlorobenzyl chloride (1,1 %).

Menurut peneliti laboratorium berinisial AKS, empat komponen ikutan dari sampel gas air mata (berupa serbuk) yang ditembakkan di Stadion Kanjuruhan memiliki sifat beracun, mudah terbakar, menimbulkan kerusakan organ tubuh, dan pada kondisi tertentu bisa memicu kematian. ”Semua senyawa itu bisa memicu kanker. Ketika kena paparan gas, akan menjadi senyawa berbahaya,” kata AKS saat ditemui di kampusnya, Rabu (2/11). Sampel yang diuji merupakan gas air mata yang ditemukan di tribune utara Stadion Kanjuruhan. Menurut AKS, CS terurai menjadi empat senyawa berbahaya karena penyimpanan yang tidak layak, telah kedaluwarsa, dan perubahan akibat kelembaban udara. Senyawa ikutan ini teridentifikasi setelah peneliti melarutkan serbuk yang berasal dari gas air mata dan memasukkannya ke alat gas chromatography mass spectrometer.

Hasil uji laboratorium salah satu kampus negeri di Jatim ini terkonfirmasi dengan pengujian sepuluh sampel gas air mata yang berasal dari Satuan Brimob Polda Jatim, Shabara Polres Malang, dan suporter Arema FC. Penelusuran di tiga rumah sakit di Malang, ditemukan, kondisi korban meninggal pada umumnya mengalami hipoksia (kekurangan oksigen). Sebagian korban yang masih hidup mengalami iritasi di mata, sesak napas, kerongkongan gatal, mata merah, serta luka-luka di dada, tangan, dan kaki. Dokter M Harun Al Rasyid dari Rumah Sakit Umum Wava Husada Kepanjen, Malang, meyakini korban-korban yang meninggal di Kanjuruhan akibat paparan gas air mata. RS Wava Husada merupakan rumah sakit yang paling banyak menerima korban meninggal. (Yoga)


Tags :
#Isu Lokal
Download Aplikasi Labirin :