Tekan Disparitas Harga, Gerai ”Rumah Kita” Perlu Ditambah
Program tol laut yang berjalan sejak 2015 tidak otomatis menekan disparitas harga di kawasan timur Indonesia. Pemda mengaku kesulitan mengawasi harga barang pengguna tol laut. PT Pelni (Persero) menghadirkan gerai ”Rumah Kita” yang terbukti menekan disparitas harga. Gerai tersebut perlu diperbanyak demi membantu masyarakat. Salah satu gerai Rumah Kita kini berdiri di dekat Pelabuhan Lewoleba, Kabupaten Lembata, NTT, seperti terpantau pada Rabu (2/11). Beroperasi sejak Maret 2022, gerai itu menampung bahan pokok yang dibawa kapal tol laut dari Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Jatim, untuk dijual langsung kepada masyarakat. Beras premium di gerai itu dijual Rp 11.500 per kg, sedangkan harga pasar di daerah itu paling murah Rp 13.000 per kg. Gula pasir dijual Rp 17.000 per kg, sedangkan di pasar paling rendah Rp 19.000 per kg. Daging ayam beku dengan bobot 1,3 kg dijual Rp 50.000, sedangkan harga pasar lokal paling murah Rp 75.000.
Ridho (30), pedagang makanan, setiap hari membeli 10 paket daging ayam beku di Rumah Kita. Daging beku itu diolah menjadi menu ayam goreng dan mi ayam. ”Saya tidak lagi belanja ayam di pasar. Sudah tujuh bulan saya beli di sini. Untungnya lebih banyak,” ucapnya. Vice President of NonCommercial Cargo PT Pelni Ridwan Mandaliko mengatakan, kehadiran gerai Rumah Kita bertujuan menekan disparitas harga. Langkah ini diambil setelah harga barang di beberapa daerah yang disinggahi tol laut, termasuk Lembata, masih tetap tinggi. Padahal, pemerintah sudah memberikan subsidi angkutan untuk barang yang diangkut kapal tol laut. Contohnya,tarif komersial pengiriman satu peti kemas berukuran 20 kaki dari Surabaya ke Lewoleba sekitar Rp 8 juta. Jika diangkut dengan kapal tol laut, ongkosnya hanya Rp 3,3 juta.
Di Indonesia sudah ada empat gerai Rumah Kita, yakni Lewoleba; Jailolo di Kabupaten Halmahera Barat dan Morotai di Kabupaten Pulau Morotai, Provinsi Maluku Utara; dan Saumlaki di Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku. Empatlokasi itu disinggahi kapal tol laut. Menurut data Kementerian Perhubungan, secara nasional, pelabuhan yang disinggahi tol laut terus meningkat, yakni sebanyak 31 pelabuhan pada 2016 menjadi 130 pelabuhan kini. Begitu pula jumlah armada yang dari semula enam unit kini menjadi 32 unit. Trayek yang dilayani pun bertambah, dari semula enam trayek menjadi 33 trayek. Jumlah muatan yang dulunya 81.404 ton, pada tahun 2021 naik menjadi 477.600 ton. Ridwan mendorong semua pelabuhan yang disinggahi kapal tol laut agar dibangun gerai Rumah Kita. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023