;

Muda, Beda, dan Berkasidah

Muda, Beda, dan Berkasidah

Rampak bunyi rebana, darbuka, ketipung, dan tamborin mengiringi cengkok vokal Saniya (21) berdendang tembang ”Ya Khoiro Hadi” di kompleks Universitas PGRI Semarang, Kamis (23/6) malam. Kasidah akrab di telinganya sejak bayi karena sering diputar di rumahnya. Tak pelak, mahasiswi jurusan Pendidikan Matematika Universitas PGRI Semarang itu jatuh cinta pada kasidah. Asatid (RNA) adalah unit kegiatan mahasiswa di bidang seni kasidah di kampusnya. Bersama RNA, Saniya puluhan kali pentas di panggung.

Kasidah, musik bergenre religi, juga memikat hati Makhi (21) sejak belia. Mahasiswi jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, IAIN Pekalongan itu rajin berlatih menyanyi kasidah sejak SD. Makhi awalnya tak terpikir berkarier di dunia musik kasidah. Hingga di tahun 2014, ia mendengar pengumuman di radio lokal. Nasida Ria, kelompok kasidah legendaris asal Semarang yang dia idolakan, menggelar audisi untuk mencari bintang-bintang baru. Empat tahun setela lolos audisi, salah satu pimpinan Nasida Ria datang ke rumahnya untuk menawari bergabung dengan Ezzura, kelompok kasidah ”yunior” Nasida Ria.  Sejak bergabung dengan Ezzura, Makhi sudah ratusan kali manggung. Hingga akhirnya pentas dengan Nasida Ria, termasuk pada acara pembukaan Documenta Fifteen di Kassel, Jerman, Sabtu (18/6).

Road Manager Nasida Ria, Zuhad Mahdi, mengungkapkan, Nasida Ria yang tahun ini berumur 47 tahun terus mengupayakan regenerasi melalui kelompok-kelompok penerusnya, yakni Ezzura dan Qasidah Tanpa Nama (QTN). Anak-anak muda yang berminat belajar kasidah direkrut menjadi anggota QTN. Kemampuan mereka diasah hingga ”naik kelas” menjadi personel Ezzura, lalu Nasida Ria. Riset berjudul ”Eksistensi Grup Musik Kasidah Nasida Ria Semarang dalam Menghadapi Modernisasi” oleh Umi Cholifah dalam Jurnal Komunitas Universitas Negeri Semarang (2011) menunjukkan, Nasida Ria tetap eksis karena masih tampil di televisi ataupun di berbagai acara. (Yoga)


Tags :
#Isu Lokal
Download Aplikasi Labirin :