Pengurangan Sampah Makanan Ikut Cegah Krisis Pangan
Pengurangan sampah makanan dinilai penting dalam usaha meningkatkan ketersediaan pangan di tengah ancaman krisis pangan global. Lewat G20 Presidensi Indonesia, isu itu diharapkan semakin jadi perhatian bersama sehingga ada pertukaran informasi ataupun metode pendataan agar pengelolaan pangan dapat berkelanjutan. Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo pada pembukaan G20 Agriculture Working Group ”Workshop on Gap Analysis on Food Loss and Waste Indices” yang digelar secara daring, Selasa (21/6) mengatakan, sektor pertanian tengah dihadapkan pada ancaman krisis pangan. Situasi itu dipicu oleh gangguan suplai dan perdagangan pangan global.
”Penanganan food loss and waste (sampah makanan/FLW) penting karena hasil kajian FAO (Organisasi Pangan dan Pertanian) menunjukkan sepertiga bahan pangan yang diproduksi di dunia terbuang. Pada saat bersamaan, dunia harus mampu menyediakan pangan bagi 9 miliar penduduk pada 2050,” kata Syahrul. Hasil kajian Bappenas menunjukkan, FLW di Indonesia selama 20 tahun berkisar 23-48 juta ton per tahun atau 115-184 kilogram per kapita per tahun. Kerugian ekonominya setara dengan 4-5 % PDB Indonesia, Rp 212 triliun-Rp 551 triliun per tahun (Kompas, 13 Oktober 2021). Upaya pengurangan FLW secara signifikan dapat meningkatkan ketahanan pangan (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023