KERAJINAN TANGAN, Lakon ”Pomanduno” Terakhir di Buton
Wa Aji (70) khusyuk mengolah sebongkah tanah liat di Balai 2 x 2 meter di belakang kediamannya, di Kelurahan Lipu, Betoambari, Baubau, Sulteng. Geraknya lentur seiring pengalaman puluhan tahun membuat gerabah. Nenek dengan cucu yang tak mampu ia hitung ini bertahan hidup dengan gerabah, sekaligus menjadi segelintir pomanduno terakhir di tanah Buton. Perlahan, tanah liat telah berbentuk serupa parabola mini. Gerabah ini disebut kabubu atau peralatan membuat kue. Fungsinya serupa oven yang menyimpan panas. Setelah memasang pegangan, kabubu telah tuntas. Kabubu ini dijual Rp 20.000 per buah. Lima hingga 10 gerabah berbagai bentuk dibuatnya sehari. Meski tergantung kecepatan produksi dan permintaan dari pelanggan, dalam seminggu ia biasa mendapat Rp 100.000. Wa Aji belajar dari orang tuanya, yang ilmunya diwariskan turun-temurun. Pembuatan gerabah dilakukan oleh perempuan sejak dahulu. Selain tak ada generasi penerus, Wa Aji juga menghadapi kendala lain. Sumber tanah liat membuat gerabah berjarak 40 menit berkendara. Bersama rekan-rekannya sesama pembuat gerabah, mereka biasa menyewa kendaraan untuk mengambil tanah liat.
Wa Ana, pomanduno lainnya, menuturkan hal serupa. Anak perempuannya tidak lagi mengetahui cara pembuatan gerabah. Padahal, ia bertahan hidup dan membesarkan empat anak dari pembuatan gerabah. Gerabah ini dijual di pasar di Baubau atau memenuhi pesanan khusus. Namun, semakin hari, pembuat gerabah atau pomanduno ini semakin berkurang. Di Kelurahan Lipu, kini tersisa segelintir pomanduno. Herlin (28), pemuda Lipu dan penggerak kerajinan gerabah, menceritakan, kini hanya tersisa 10 pembuat gerabah. Dua orang di antaranya sakit-sakitan dan beristirahat beberapa waktu terakhir. Padahal, kata Herlin, saat ia kecil, wilayah ini adalah sentra pembuatan gerabah. Berbagai bentuk gerabah, dari kabubu, palama, nu’ua (periuk), kaecunu’a (dupa), hingga bulusa (tempat menyimpan beras), dihasilkan masyarakat. Saat ini, pembuat gerabah adalah para warga lansia tanpa generasi penerus. ”Selain tempat mengambil bahan baku tanah liat yang semakin jauh, hampir satu jam dari Lipu, pembuatan gerabah dianggap bukan pekerjaan yang baik. Ditambah lagi orang sekarang jarang pakai peralatan gerabah. (Yoga)
Tags :
#Isu LokalPostingan Terkait
KETIKA PERAK TAK LAGI SEKADAR LOGAM
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023