Stagflasi dan Arah Ekonomi
Fenomena ekonomi belakangan ini ditandai dengan merosotnya pertumbuhan ekonomi yang disertai dengan inflasi tinggi atau dikenal sebagai stagflasi. erbitan berkala Dana Moneter Internasional, World Economic Outlook, edisi April 2022 menunjukkan penurunan proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia 2022 yang tadinya diperkirakan 4,4 %, pada Januari menjadi 3,6 %. Sementara inflasi diperkirakan mencapai 5,7 % di negara maju dan 8,7 persen di negara berkembang atau lebih tinggi daripada kalkulasi sebelumnya. Pecahnya perang Rusia-Ukrania telah menimbulkan implikasi luas, seperti kenaikan harga minyak, pangan, dan biaya distribusi. Meski stagflasi dipastikan terjadi, faktor penentu dan dinamikanya berbeda sehingga mitigasinya tak bisa sama.
BPS melaporkan pertumbuhan ekonomi kuartal I-2022 sebesar 5,01 % secara tahunan. Jika dibandingkan dengan kuartal sebelumnya di mana pertumbuhan 5,02 %, terjadi penurunan 0,9 %. Jika dibandingkan dengan pertumbuhan kuartal I-2021 yang masih terkontraksi 0,70, bisa dikatakan sudah terjadi pemulihan ekonomi. Sebagai perbandingan, pertumbuhan ekonomi kuartal pertama 2019 sebesar 5,07 %. Masalahnya, situasi tahun ini sama sekali berbeda dengan situasi sebelum pandemi. Untuk itu, tak ada kemewahan untuk berpuas diri dengan kinerja ekonomi kuartal I-2022. Inflasi bulan April sebesar 0,95% mendorong inflasi tahunan 3,47 % dengan inflasi makanan dan minuman sudah mencapai 5,20 %. Tekanan inflasi sama sekali tak bisa diremehkan. Moderasi ekonomi akibat stagflasi global harus dimanfaatkan untuk melakukan transformasi guna mengatasi ketertinggalan kita selama ini. (Yoga)
Tags :
#EkonomiPostingan Terkait
Prospek Perbaikan Ekonomi di Paruh Kedua Tahun
Rendahnya Belanja Produktif Menghambat Pemulihan
Perjuangan Jakarta untuk Tumbuh 6% di 2026
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023