;

Tekanan Harga Minyak Mentah Dunia

Lingkungan Hidup Yoga 07 May 2022 Kompas
Tekanan Harga Minyak Mentah Dunia

Dunia, termasuk Indonesia, harus bersiap-siap menghadapi guncangan lebih dahsyat yang diakibatkan lonjakan harga minyak mentah dunia yang kian tak terkendali. Dalam skenario terburuk, sebagai dampak dari kian meluasnya embargo Barat terhadap minyak Rusia, harga minyak mentah diprediksi JP Morgan mencapai 185 USD per barel akhir 2022. Angka ini hampir dua kali lipat dari prediksi rata-rata harga Brent untuk 2022 oleh Energy Information Administration (EIA), sebesar 98 USD per barel. Kendati harga minyak mentah Indonesia (ICP), juga mengalami kenaikan seiring kenaikan harga minyak mentah global, posisi Indonesia sebagai importir neto membuat lonjakan harga minyak dunia juga kian menambah beban APBN dan menekan ekonomi dalam negeri. Subsidi energi dipastikan kian membengkak. Lonjakan harga minyak mentah dunia juga akan memukul Pertamina dan sektor transportasi atau industri yang mengonsumsi BBM non-subsidi, memicu kenaikan harga barang-barang, dan kian menekan daya beli masyarakat. Perhitungan pemerintah, setiap kenaikan 1 USD per barel harga minyak mentah dunia akan membengkakkan subsidi elpiji dalam negeri sekitar Rp 1,47 triliun dan subsidi BBM lebih dari Rp 2,65 triliun. Belum lagi dampak ke subsidi dan kompensasi listrik sebesar Rp 295 miliar, mengingat masih tingginya penggunaan BBM dalam pembangkit listrik.

Dengan harga minyak mentah dunia kini hampir dua kali lipat asumsi APBN 2022 yang 63 USD per barel, Menteri ESDM memperkirakan pembengkakan subsidi energi (belum termasuk listrik) bisa mencapai lebih dari Rp 320 triliun, dari angka yang ditetapkan di APBN 2022 sebesar Rp 134 triliun. Sementara itu, kemampuan fiskal kita terbatas. Pemerintah dipaksa bekerja lebih keras memutar otak untuk membiayai lonjakan subsidi ini dan harus ada yang dikorbankan. Agar target defisit APBN di bawah 3 persen akhir 2023 tak terganggu, pemerintah mungkin akan dipaksa menempuh langkah tak terhindarkan, termasuk penyesuaian harga BBM bersubsidi, realokasi anggaran (infrastruktur), penghematan belanja pegawai/barang, penggunaan dana PEN, dan lain-lain. Naiknya harga minyak juga meningkatkan tekanan inflasi dunia dan menambah ketidakpastian global. The Fed akan dipaksa lebih agresif menjinakkan inflasi dengan menaikkan suku bunga. Ini bisa memicu eksodus modal dari negara berkembang termasuk Indonesia, dan menekan nilai tukar. Situasi ini harus jadi momentum membenahi secara menyeluruh kebijakan menyangkut energi. Termasuk pembenahan harga secara bertahap dan mengakhiri kebijakan subsidi tak tepat sasaran. (Yoga)


Download Aplikasi Labirin :