Geopolitik Ubah Peta Ekspor Batu Bara
Harga dan permintaan komoditas batu bara dikenal rentan oleh dinamika geopolitik. Tensi hubungan Australia dan China berakibat dihentikannya ekspor batu bara Australia oleh China sehingga berdampak terhadap kenaikan harga. Sedangkan contoh yang terkini adalah invasi Rusia atas Ukraina yang memicu reaksi Uni Eropa (UE) untuk menghentikan impor batu bara mereka dari Rusia yang mendorong lonjakan harga serta berpotensi mengubah peta ekspor batu bara. Gejolak geopolitik yang awalnya menjadi salah satu pemicu naiknya harga komoditas di 2021 adalah kurang harmonisnya hubungan Australia dan China yang dipicu oleh ketidaksukaan Beijing terhadap langkah Canberra yang mendukung investigasi asal muasal virus Corona yang diklaim oleh Amerika Serikat (AS) dan beberapa negara sekutunya termasuk Australia berawal dari kota Wuhan. Perkembangan geopolitik di atas yang mendorong pemerintah China mengambil langkah berani menghentikan (meski tidak ada keputusan resmi) impor batu bara dari Australia.
Akibat dari “embargo” China tersebut, Australia mengalihkan (divert) ekspornya kebanyakan ke India. Membanjirnya pasokan batu bara dari Australia ke India mau tidak mau turut menggerus porsi ekspor dari Indonesia ke India. Ekspor RI ke India pada 2020 sekitar 97 juta ton, dan di 2021 hanya 65 juta ton. Harga komoditas kemudian melambung di luar perkiraan akibat konflik Rusia vs Ukraina. Invasi Rusia yang dimulai 24 Februari 2022 membuat negara-negara anggota UE yang selama ini menjadi importir batu bara Rusia mencoba mencari alternatif pasokan. Bahkan, UE telah mengumumkan akan menghentikan impor batu bara dari Rusia efektif di Agustus 2022. Selain Rusia, negara-negara UE mengimpor batu bara dari Kolombia, Afrika Selatan, dan AS.
Tags :
#Batu BaraPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023