Terbirit-birit Melayani Pesanan
Pandemi Covid-19 belum usai. Namun, kegairahan sepanjang Ramadhan tahun ini kembali terasa di tempat-tempat makan. Para pengelola rumah makan sampai ”terbirit-birit” melayani pesanan. Dengan begitu, roda perekonomian kembali berputar. Asep Maulana (28) luar biasa sibuk menerima pesanan konsumen. Di depan Kedai Peda Pelangi, pembeli berbaris hingga 10-an meter. Beres sejenak di kasir, Asep mengalihkan perhatiannya ke meja untuk meracik es kopi susu. Kompor yang tak berhenti menyala sejak siang mengembuskan udara yang membuat gerah. Nadya Fathani (23) alias Hani tak kalah sibuk memenuhi pesanan. Dia menggoreng perkedel jagung, menyiapkan piring beralaskan daun pisang, dan mengganti wajan dengan pan khusus telur ceplok. Di sela-selanya, dia masih harus meladeni konsumen yang mencoba menyela, memesan dari samping kedai. Hingga menjelang Maghrib, Peda Pelangi yang berlokasi di kawasan Sudirman Central Business District (SCBD), Jakarta, itu masih ramai pembeli. Tak hanya Asep dan Hani yang kewalahan, pemilik Kedai Peda Pelangi, Nadya Pratiwi danYusuf Dharmawan, pun turun tangan. Pukul 18.30, kesibukan melandai meski masih ada sisa pesanan yang harus dituntaskan. Setengah jam berlalu, mereka bisa sedikit bersenda gurau, mengobrol, dan sekejap mengecek ponsel.
Suasana menjelang berbuka di Antasore Japanese Dining di Antasari, Jaksel , Kamis (14/4), tak jauh berbeda. Sejak pukul 17.00, Rio Pratama, sang koki, beserta lima juru masak sudah sibuk menyiapkan pesanan. Mereka terlihat wara-wiri di dapur yang hanya berbatas kaca hingga masuk saat berbuka. Demi menyelesaikan pesanan, Rio dan tim memilih hanya minum secara cepat lebih dahulu untuk membatalkan puasa. Sushi roll, ramen, hingga aneka minuman berseliweran dibawa pelayan dari dapur. Salah satunya Venny Tri Wulandari yang sudah siap sejak pukul 16.00. Ramainya pengunjung pada hari itu membuat Venny bingung mencari posisi pemesan. ”Penuh banget bukber tahun ini. Dari kapasitas 100 orang, selalu penuh. Untuk minggu ini saja, udah enggak ada slot lagi untuk berbuka,” ujarnya.
Suasana di XXI Lounge Plaza Senayan saat buka puasa bersama, Jumat (15/4), relative lebih terkendali. Lokasi yang privat dengan jumlah undangan terbatas dan menu yang sudah dipesan di muka membuat suasana hiruk-pikuk tak terasa. Para pelayan mengisi meja makan prasmanan dengan cekatan, tanpa menarik perhatian. Menjelang berbuka puasa, semua menu telah dihidangkan, mulai dari kolak, kurma, kue tradisional, puding, salad, hingga makanan utama. Begitu azan Maghrib menggema, para pelayan menghilang ke belakang untuk membatalkan puasa. Di Ramen Ya yang berlokasi di pusat perbelanjaan di Jaksel, sebagian pelanggan minta pesanannya diantar sebelum berbuka sehingga menguntungkan bagi pelayan dan bagian dapur. Saat jam berbuka, beberapa tamu tetap ada yang datang dan bersedia menunggu. Namun, bagi yang datang sendiri, masih ada sejumlah bangku yang tersedia. Tamu pun tak perlu lama menunggu pesanan. Direktur Komunikasi Pemasaran Hotel Raffles Jakarta Mirah Marhaendra mengungkapkan, dibandingkan dengan tahun lalu, jumlah pelanggan terutama untuk berbuka puasa meningkat 25 %. Ini, menurut dia, disebabkan kebijakan pemerintah soal penanganan pandemi yang terbilang lebih fleksibel sehingga berdampak positif pada antusiasme pelanggan. (Yoga)
Tags :
#Isu LokalPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023