Deflasi di Tengah Risiko Gejolak Pangan-Energi
Indonesia mengalami deflasi pada Februari 2022. Penurunan harga minyak goreng serta telur dan daging ayam ras menjadi kontributornya. Namun, periode deflasi dinilai bersifat sementara di tengah risiko kenaikan harga pangan dan energi sepanjang tahun ini. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, secara bulanan, Indonesia mengalami deflasi pada Februari 2022. Namun, secara tahunan (tahun ke tahun) masih inflasi 2,06 %, sementara menurut tahun kalender (Januari-Februari 2022) inflasi 0,52 %. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Setianto (1/3) mengatakan, kelompok pengeluaran makanan-minuman dan tembakau menjadi kontributor utama deflasi dengan tingkat deflasi 0,84 5 dengan andil 0,22 %. Sementara itu, kelompok pengeluaran perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga mengalami inflasi 0,25 % pada Februari 2022. Listrik dan bahan bakar rumah tangga berkontribusi 0,35 %.
Analis makroekonomi PT Bank Danamon Indonesia, Irman Faiz, berpendapat, deflasi secara bulanan disebabkan oleh penurunan harga kelompok pengeluaran makanan-minuman, khususnya minyak goreng. Hal ini salah satunya akibat pemberlakuan kebijakan HET minyak goreng. Di sisi lain, harga elpiji dan bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi naik seiring kenaikan harga gas dan minyak dunia. Sepanjang Februari 2022, harga minyak goreng berangsur turun kendati masih di atas HET. Harga minyak goreng curah pada 2-25 Februari 2022, turun 9,2 % menjadi Rp 15.600 per liter dan minyak kemasan sederhana turun 6,9 % menjadi 16.400 per liter. Harga itu masih di atas HET minyak goreng curah yang ditetapkan Rp 11.500 per liter dan kemasan sederhana Rp 13.500 per liter. (Yoga)
Tags :
#KomoditasPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023