Momentum Kedelai Lokal
Sejumlah petani dan kelompok tani berharap meroketnya harga kedelai impor berdampak positif bagi upaya mengembangkan kedelai lokal. Selain upaya mendongkrak produktivitas, tantangan lain petani terkait jaminan harga dan penyerapan hasil panen. Ketua Gabungan Kelompok Tani Pangudi Makmur Desa Belor, Grobogan, Jateng, Abdul Aris (21/2) berpendapat, petani di wilayahnya biasanya menanam kedelai sekali setahun, tetapi, petani kerap menghadapi harga jual yang kurang optimal. Pada 2021, harga jual kedelai Gepak Ijo, varietas paling banyak yang ditanam petani mencapai Rp 9.000 per kg, bahkan saat panen raya harga kedelai di petani jatuh sampai Rp 6.000-Rp 7.000 per kg.
Kepala Desa Cibulan, Kuningan, Jabar Iwan Gunawan menyatakan, kendala budidaya kedelai ialah sulitnya menjemur saat musim hujan. Dari segi harga, saat ini sebenarnya sudah relatif baik, yakni sekitar Rp 10.000 per kg. Ia meyakini, budidaya yang baik akan menghasilkan kedelai berkualitas yang bahkan lebih baik dibandingkan dengan kedelai impor. Selama ini, kedelai lokal selalu kalah bersaing dengan kedelai impor, khususnya dari sisi harga. Kedelai impor lebih murah dan porsinya makin besar dalam struktur pemenuhan kebutuhan kedelai nasional. Namun, kini harga kedelai impor umumnya lebih tinggi dibandingkan kedelai lokal. (Yoga)
Tags :
#KomoditasPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023