Penerimaan Masyarakat Jadi Tantangan Transisi Energi
Konsep, kompetensi, dan konektivitas, termasuk penerimaan masyarakat dalam transisi energi dari fosil ke energy terbarukan, perlu dimatangkan dalam upaya menuju bebas emisi pada 2060. Hal itu dikatakan Mentamben 1978-1988 Subroto dalam webinar ”Siapkah Indonesia Menuju Transisi Energi?” yang digelar Ikatan Alumni Fakultas Hukum Undip, Sabtu (5/2). Menurut data Ditjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, target penyediaan listrik dari energi terbarukan terus meningkat. Dari 9.427 MW pada 2017 menjadi 11.804 MW pada 2022, mencakup hibrida, bayu, surya, bioenergi, panas bumi, dan air. Angka itu belum termasuk pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) Atap.
Ketua Umum Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia Surya Darma mengatakan, ada sejumlah tantangan dalam transisi energi. Dalam kelistrikan, kapasitas terpasang 73 gigawatt. Sebesar 88 % dengan fosil, termasuk batubara, hanya 12 % energi terbarukan, yang kontradiktif dengan upaya penurunan karbon. Terbatasnya pendanaan dan SDM menjadi kendala kendati sudah ada komitmen nasional, yakni penurunan emisi karbon 29 % pada 2030. Pengembangan energi terbarukan, ujar Surya, tak mungkin sepenuhnya dilakukan pemerintah.
Direktur Perencanaan dan Pengembangan Infrastruktur EBTKE Ditjen EBTKE Kementerian ESDM Hendra Iswahyudi mengatakan, pemerintah terus mendorong peningkatan energi terbarukan. Upaya yang dilakukan, antara lain, penyelesaian sejumlah regulasi dan mandatori bahan bakar nabati. Selain itu, diberikan pula insentif fiskal dan nonfiskal untuk energi terbarukan, kemudahan perizinan, serta mendorong permintaan energi listrik. (Yoga)
Tags :
#Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023