Industri : Ekonomi Camilan
Hanya dengan “ngemil” seluruh rantai ekonomi camilan dari hulu hingga hilir dapat terus bergerak. Inilah yang disebut dengan "snacking economy". Kendati terimbas pandemi Covid-19, snacking economy atau ekonomi yang digerakkan oleh konsumsi, bisnis, dan perdagangan makanan ringan terus bertahan. Bisnis ini bahkan menjadi solusi pergerakan ekonomi rakyat di tengah intaian kenaikan pengangguran dan penurunan penghasilan masyarakat yang dirumahkan, dikurangi jam kerjanya, atau mengalami pemutusan hubungan kerja.
Sebelum pandemi, tepatnya pada 2019, nilai pasar camilan (snack) global sebesar 491,4 miliar dollar AS. Pembatasan aktivitas ekonomi untuk mengendalikan pandemi, termasuk di sektor ritel grosir dan eceran camilan, menyebabkan nilai pasarnya turun cukup drastis menjadi 427,02 miliar dollar AS pada 2020. Statista, perusahaan Jerman yang bergerak di bidang jasa layanan data statistik, memproyeksikan, pada 2021 ini, nilai pasar camilan global akan kembali meningkat menjadi 448,96 miliar dollar AS. Kategori camilan itu antara lain mencakup makanan ringan manis, gurih, asin, seperti aneka keripik dan kerupuk, kue kering atau biskuit, dan aneka jenis kacang.Sepanjang 2021-2025, nilai pasar camilan global ini diperkirakan akan tumbuh rata-rata 2,85 persen per tahun. Khusus Indonesia, nilai pasarnya diperkirakan 6,7 miliar dollar AS pada 2021. Rata-rata pertumbuhan tahunannya sebesar 6,08 persen sepanjang 2021-2025.
Tags :
#EkonomiPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023