Produksi 5 Ton Lele Tiap Panen
Meskipun destinasi wisata di Kota Palembang harus ditutup karena situasi zona merah. Namun hal itu tidak membuat agrowisata edukasi Sungai Jawi kehilangan seluruh pendapatan utamanya. Salah satunya, dari kolam lele edukasi percontohan sistem bioflok misalnya. Meski tidak ada kunjungan edukasi, hasil panen lele setiap tiga bulan juga cukup menguntungkan.
Ketua kelompok sadar wisata Sungai Jawi sekaligus mentor lele bioflok, Hendi mengatakan pengembangan budidaya lele modern ini telah dimulai sejak April 2020. "Mulanya dulu kita awali dengan membuat kolam lele bioflok di TPS 3R Kalidoni, tapi itu hanya sebagai sebatas contoh edukasi, nah saya ingin membuktikan kepada masyarakat kita bisa membuat ini dalam skala bisnis, makanya kita buat di agrowisata Sungai Jawi," ujarnya.
Beruntung keinginan tersebut diwujudkan dengan datangnya bantuan sosial berupa hibah dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Palembang. Berupa sarana prasarana pembuatan 10 kolam terpal, rangka besi kolam bundar diameter 3 meter dan tinggi 1,5 meter, benih, pakan, hingga bangunan rangka baja dan kebutuhan lainnya.
Butuh waktu tiga bulan dari masa penebaran benih hingga lele siap panen. Setidaknya, sudah 3 kali panen hingga saat ini. Pengelolaan diurus oleh 10 orang anggota kelompok yang bergantian setiap harinya memantau air dan pemberian pakan.
Hendi mengatakan, kolam lele sistem bioflok lebih menitik beratkan pada penggunaan mikroba. "Kalau kolam biasa kan tidak memakai mikroba, sehingga ikan bisa cepat besar, pakan bisa berkurang 20 ada sampai 30 persen," ungkapnya. Kemudian, keuntungan kolam bioflok adalah air tidak berbau. Lantaran kotoran ikan yang mengendap di dasar kolam diolah kembali oleh mikroba. Alhasil di kolam dengan sendirinya akan memunculkan kutu air, lumut sebagai pakan alami ikan. Pelet pun yang kita kasih ke ikan juga direndam dulu dengan mikroba, supaya pakan lebih lembut dan memudahkan pencernaan," jelasnya. Mikroba tersebut bisa diperoleh di pasar-pasar perikanan pertanian. Biasanya sebelum budidaya, ada treatment yang terlebih dahulu dilakukan pada kolam bioflok. Yakni dengan memasukkan air setinggi 30 cm, pemberian pupuk kandang dan dilanjutkan dengan penyebaran mikroba. Sehingga pupuk kandang tersebut diurai oleh mikroba.
Alhasil timbullah jentik nyamuk, kutu air, cacing darah. Begitu bibit ikan masuk, kolam sudah dipenuhi pakan yang cukup. "Dengan adanya mikroba, endapan air yang kotor kembali diurai jadi bersih lagi, jadi tidak perlu sering ganti air, kalau kita cukup pasang aerator tiap kolam untuk suplai oksigen," katanya.
Total ada 30.000 benih lele yang ditebar atau 3.000 benih di setiap kolamnya. Setiap panen, rata-rata per kolam didapatkan 500 kg ikan lele. Secara keseluruhan kolam ada 4-5 ton ikan yang dipanen. Dibanding kolam biasa, persentase bibit ikan mati lebih kecil sekitar 5%.
Diakuinya untuk penjualan lele tergolong mudah. Kebutuhan di Kota Palembang tergolong mudah, pecel lele di mana-mana, justru selama ini lele di Palembang kebanyakan dipasok dari Lampung Linggau dan Jambi. "Sekarang kalau dengar kita panen, orang datang panen sendiri, nimbang sendiri, kita tinggal terima duit," bebernya. Pembelinya langsung dari pengurus paguyuban pecel lele yang datang ambil ikan hasil panen. Apalagi menurutnya sekarang lebih mudah, lewat medsos cukup pasang di IG atau FB pembeli langsung datang.
"Lele bioflok ini menurut saya adalah budidaya yang paling enjoy. Tidak harus ganti air, tidak harus segala macam dan keuntungan lebih lumayan dibanding konvensional," sebut Hendi. la berharap, budidaya seperti ini bisa terus dikembangkan.Postingan Terkait
Lubang di Balik Angka Manis Surplus Perdagangan
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023