;
Tags

Bursa

( 805 )

Saham Bank Lapis Dua, Peluang atau Tantangan?

HR1 18 Feb 2025 Kontan
Harga saham perbankan big caps masih tertekan, sehingga investor mulai melirik saham bank KBMI 3 yang menunjukkan kinerja solid pada 2024. Bank Syariah Indonesia (BSI) membukukan laba bersih Rp 7,01 triliun, tumbuh 22,8% secara tahunan, dengan harga saham BRIS naik 9,35% sepanjang tahun ini. Bank Permata (BNLI) juga mencetak laba bersih Rp 3,56 triliun, melonjak 37,9% secara tahunan, dengan sahamnya naik 70,62% sejak awal tahun.

Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori, Ekky Topan, menyatakan bahwa bank KBMI 3 menarik perhatian investor karena pertumbuhan laba yang tinggi dan tekanan jual pada saham big caps. Menurutnya, BRIS masih memiliki potensi kenaikan harga, dengan target Rp 3.800 per saham.

Analis PT Edvisor Profina Visindo, Indy Naila, menambahkan bahwa saham KBMI 3 masih memiliki PER yang relatif murah, sehingga menarik untuk investasi. Ia merekomendasikan BDMN dan BNGA, dengan target harga Rp 2.650 dan Rp 1.880, karena konsisten memberikan dividen.

Namun, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji, mengingatkan investor untuk selektif dalam memilih saham KBMI 3, karena likuiditasnya lebih rendah dibanding big caps. Menurutnya, BRIS saat ini menjadi satu-satunya saham KBMI 3 yang sedang dalam tren naik.

Saham bank KBMI 3 masih berpotensi menarik bagi investor, terutama dengan prospek penurunan suku bunga di 2025.

Saham Bank Lapis Dua, Peluang atau Tantangan?

HR1 18 Feb 2025 Kontan
Harga saham perbankan big caps masih tertekan, sehingga investor mulai melirik saham bank KBMI 3 yang menunjukkan kinerja solid pada 2024. Bank Syariah Indonesia (BSI) membukukan laba bersih Rp 7,01 triliun, tumbuh 22,8% secara tahunan, dengan harga saham BRIS naik 9,35% sepanjang tahun ini. Bank Permata (BNLI) juga mencetak laba bersih Rp 3,56 triliun, melonjak 37,9% secara tahunan, dengan sahamnya naik 70,62% sejak awal tahun.

Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori, Ekky Topan, menyatakan bahwa bank KBMI 3 menarik perhatian investor karena pertumbuhan laba yang tinggi dan tekanan jual pada saham big caps. Menurutnya, BRIS masih memiliki potensi kenaikan harga, dengan target Rp 3.800 per saham.

Analis PT Edvisor Profina Visindo, Indy Naila, menambahkan bahwa saham KBMI 3 masih memiliki PER yang relatif murah, sehingga menarik untuk investasi. Ia merekomendasikan BDMN dan BNGA, dengan target harga Rp 2.650 dan Rp 1.880, karena konsisten memberikan dividen.

Namun, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji, mengingatkan investor untuk selektif dalam memilih saham KBMI 3, karena likuiditasnya lebih rendah dibanding big caps. Menurutnya, BRIS saat ini menjadi satu-satunya saham KBMI 3 yang sedang dalam tren naik.

Saham bank KBMI 3 masih berpotensi menarik bagi investor, terutama dengan prospek penurunan suku bunga di 2025.

Fase Konsolidasi IHSG Segera Berakhir pada Pekan Ini

KT1 17 Feb 2025 Investor Daily (H)

Awan hitam yang menyelimuti IHSG Bursa Efek Indonesia (BEI) diperkirakan mulai menghilang dipertengahan Februari 2025. IHSG diprediksi mengakhiri fase konsolidasi pada pekan ini, dengan sentimen penggerak yang cukup kuat masih datang dari global, dan juga berbagai data ekonomi domestik. "IHSG diperkirakan cenderung mengakhiri fase konsolidasi  di support area 6.550-6.750, untuk selanjutnya menguji level 6.700-6.750 di pekan ini," kata Head of Research Phintraco Sekuritas Valdy Kurniawan. Secara teknikal, menurut Valdy, stochastic RSI mulai bergerak naik dari oversold area, bersamaan dengan penyempitan  negative slope pada MACD. Ini memberikan ruang  bagi IHSG  untuk mencoba bergerak mendekati resitance 6.750 setelah pada akhirnya pekan lalu ditutup di posisi 6.638. 

Pergerakan IHSG, lanjut Valdy, akan mendapat pengaruh dari Amerika Serikat, dimana indeks-indeks Wall Street kembali ditutup mixed di Jumat (14/2/2025). Dengan penutupan tersebut mencatatkan penguatan mingguan di pekan lalu. "Sentimen utama berasal dari penundaan pengumuman reciprocal tarrifs oleh pemerintahan AS setelah Presiden AS, Donald Trump memerintahkan review terhadap kebijakan tersebut. Faktor lain adalah perlambatan pertumbuhan retail sales ke 4,2% yoy di Januari 2025 dari 4,36% yoy di Desember 2024. Untuk saat ini, nampaknya bad news terhadap peluang pemangkasan suku bunga acuan the Fed yang lebih agresif di 2025," papar dia. (Yetede)

Daya Tarik Bursa Indonesia Kian Memudar bagi Investor Asing

HR1 17 Feb 2025 Kontan (H)
Pasar saham Indonesia mengalami tekanan signifikan pada awal 2025. Meskipun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat naik 0,38% ke 6.638,46 pada akhir pekan, secara keseluruhan IHSG anjlok 1,54% dalam sepekan dan sudah turun 6,24% sejak awal tahun. Hal ini berdampak pada penurunan kapitalisasi pasar, yang menyusut 1,67% menjadi Rp 11.401 triliun, lebih rendah dibandingkan posisi akhir 2023.

Faktor utama yang menyebabkan pelemahan IHSG adalah capital outflow atau keluarnya dana asing dari pasar saham Indonesia. Sejak awal tahun, asing mencatatkan jual bersih sebesar Rp 10,52 triliun, meningkat dari Rp 3,70 triliun pada Januari. Akibatnya, IHSG menjadi indeks saham dengan kinerja terburuk di Asia Tenggara, tertinggal dari Filipina (-1,52%), Thailand (-0,78%), dan Vietnam (-0,38%). Bursa Singapura dan Malaysia justru mencatat kenaikan tipis masing-masing 0,42% dan 0,04%.

Selain itu, kurangnya IPO dari perusahaan besar dan kegagalan beberapa emiten berkapitalisasi besar masuk indeks global juga membuat pasar saham Indonesia kurang menarik. Salah satu contohnya adalah BREN, yang beberapa kali gagal masuk indeks MSCI Global Standard. Hal ini mengurangi daya tarik bursa Indonesia bagi investor global.

Reza Priyambada, Direktur Reliance Sekuritas Indonesia, menilai investor asing masih menunggu momentum yang lebih baik. Setelah rebalancing MSCI pada Februari 2025, banyak saham mengalami perubahan bobot investasi. Reza juga menyebut bahwa dalam waktu dekat, IHSG masih sulit kembali ke level 7.000 kecuali ada sentimen positif yang signifikan.

Sementara itu, Oktavianus Audi, Vice President Marketing Strategy and Planning Kiwoom Sekuritas Indonesia, berpendapat bahwa belum ada katalis kuat yang bisa mendongkrak IHSG dalam waktu dekat. Meskipun secara price to earnings ratio (PER), IHSG saat ini 11,53 kali, lebih rendah dibandingkan rata-rata PER lima tahun terakhir (13,6 kali), investor masih cenderung wait and see sebelum kembali masuk ke pasar saham Indonesia.

Harapan di Saham Perbankan Masih Terbuka

HR1 17 Feb 2025 Kontan
Saham sektor perbankan masih berada dalam tekanan jual, terutama dari investor asing, dengan penurunan mencapai 7% month to date (MTD) per 12 Februari 2025, lebih besar dibanding penurunan IHSG yang sebesar 6%. PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) mengalami penurunan tertinggi (17% MTD), diikuti PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) (13% MTD).

Menurut Victor Stefano, analis BRI Danareksa Sekuritas, tekanan jual ini disebabkan oleh valuasi yang masih berada di atas level terendah historis, kenaikan Non-Performing Loan (NPL), serta arus keluar dana asing yang signifikan dari perbankan besar seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), BMRI, dan BBNI sejak 2024. Ketatnya likuiditas juga menjadi tantangan yang dapat menekan Net Interest Margin (NIM) dan meningkatkan Cost of Credit (CoC).

Meski menghadapi tekanan, Associate Director Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nicodemus, menilai bahwa dividen dari bank BUMN seperti BBRI, BBNI, dan BMRI berpotensi mendukung kembali minat investor. Dengan rasio pembayaran dividen yang tinggi, BBRI diproyeksikan membagikan dividen Rp 51,12 triliun, BMRI Rp 33,46 triliun, dan BBNI Rp 12,87 triliun. Selain itu, rencana buyback saham oleh BBRI dan BBNI, terutama BBRI yang berencana buyback Rp 1,5 triliun, dapat menarik perhatian investor.

Dalam rekomendasi investasi, Nico merekomendasikan buy untuk BBRI (Rp 5.150), BBNI (Rp 5.800), BMRI (Rp 7.100), dan BRIS (Rp 3.550). Sementara itu, Victor masih menyukai BBCA, BTPS, dan BRIS karena memiliki biaya dana (CoF) yang kuat dan prospek kualitas aset yang lebih baik.

Meskipun tekanan jual masih berlanjut, prospek dividen dan buyback saham menjadi faktor yang dapat membantu pemulihan sektor perbankan.

Bank Terjepit, Margin Bunga Kian Tipis

HR1 17 Feb 2025 Kontan
Tekanan likuiditas dan ketidakpastian global membuat ekspektasi kenaikan margin keuntungan (NIM) pada sektor perbankan harus diturunkan. Secara keseluruhan, NIM industri perbankan 2024 menurun menjadi 4,62% dari 4,81% tahun sebelumnya.

PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI), meskipun memiliki NIM tertinggi, kini menargetkan NIM 7,3%-7,7% pada 2025 karena adanya tekanan suku bunga dan likuiditas, sebagaimana diungkapkan oleh Direktur Utama BRI, Sunarso. Sementara itu, Bank Mandiri menargetkan NIM sekitar 5%-5,2% dan akan fokus memacu dana murah serta stabilisasi CASA, menurut Sekretaris Perusahaan Bank Mandiri, M. Ashidiq Iswara.

PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) juga diproyeksikan menurunkan NIM ke kisaran 4%-4,2% karena tantangan likuiditas, seperti yang disampaikan oleh Direktur Utama BNI, Royke Tumilaar.

Secara keseluruhan, meskipun bank-bank besar masih berupaya menjaga fundamental melalui strategi pengelolaan risiko dan peningkatan efisiensi dana, tekanan eksternal seperti kebijakan hawkish The Fed dan potensi efek tarif dari Trump membuat pertumbuhan NIM di masa depan diperkirakan tidak akan sepositif harapan investor.

Inovasi Teknologi Mitra Keluarga Dorong Gaya Hidup Sehat

HR1 14 Feb 2025 Kontan
Prospek PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA) pada 2025 tetap positif, didukung oleh inovasi layanan medis, ekspansi rumah sakit, dan strategi efisiensi biaya. CEO Edvisor Profina Visindo, Praska Putrantyo menilai bahwa inovasi seperti Somatom Force CT System, ear and hearing center, serta digestive system center dapat menarik lebih banyak pasien, terutama dengan bertambahnya rumah sakit yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan.

Menurut Analis BRI Danareksa Sekuritas, Ismail Fakhri Suweleh, MIKA mencatat pertumbuhan jumlah pasien rawat inap dan rawat jalan sebesar 4,7% dan 5,2% pada 2024. Pendapatan tahun 2025 diproyeksikan mencapai Rp 5,4 triliun dengan peningkatan marjin EBITDA. Namun, Ismail juga mencatat tantangan dari turunnya volume pasien akibat basis efek tinggi dari wabah demam berdarah di 2024.

Analis Indopremier Sekuritas, Andrianto Saputra menambahkan bahwa perbaikan layanan cashless dengan asuransi swasta sejak September 2024 turut meningkatkan trafik pasien, sehingga EBITDA MIKA tumbuh 20% yoy pada kuartal IV-2024. Ia memperkirakan pendapatan MIKA pada 2025 akan mencapai Rp 5,73 triliun dengan EBITDA sebesar Rp 2,14 triliun.

Meskipun demikian, MIKA tetap menghadapi tantangan, seperti melemahnya daya beli masyarakat akibat efisiensi APBN dan tingginya inflasi medis di Indonesia. Praska menegaskan bahwa kondisi ekonomi yang tidak stabil dapat memengaruhi pertumbuhan perusahaan.

Para analis tetap optimis terhadap saham MIKA dengan rekomendasi buy, dengan target harga yang diberikan oleh Praska di Rp 3.100, Andrianto di Rp 3.450, dan BRI Danareksa di Rp 3.400. Namun, pertumbuhan volume pasien dan likuiditas saham masih menjadi tantangan utama bagi MIKA di tahun mendatang.

Harga Emas Jadi Penopang Performa MDKA

HR1 13 Feb 2025 Kontan
PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) diperkirakan mampu membalikkan kondisi rugi bersih menjadi laba pada tahun 2025, didukung oleh harga komoditas logam yang tinggi serta proyek-proyek baru yang mulai beroperasi.

Menurut Miftahul Khaer, Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, harga emas, perak, tembaga, dan nikel yang bergerak positif berpotensi meningkatkan rata-rata harga jual (ASP) MDKA. Namun, pembalikan laba juga bergantung pada kontribusi proyek baru dan efisiensi operasional.

Data operasional menunjukkan pendapatan emas MDKA tumbuh 17% secara kuartalan pada kuartal IV 2024 menjadi US$ 84 juta, sehingga pendapatan tahunan mencapai US$ 272 juta (tumbuh 3% YoY). Menurut Timothy Wijaya, Analis BRI Danareksa Sekuritas, kenaikan ASP emas yang mencapai US$ 2.672 per ons troi (naik 11% QoQ) membantu meningkatkan margin kas meskipun volume penjualan turun dan biaya tunai naik.

Tahun 2025 dianggap sebagai tahun penting bagi MDKA karena mulai menerima pendapatan dari proyek High Pressure Acid Leach (HPAL) dan Acid Iron Metal (AIM), serta kemungkinan produksi dari tambang emas Pani. Benny Kurniawan, Equity Research Analyst JP Morgan, menilai MDKA berada dalam posisi kuat untuk memanfaatkan kenaikan harga emas, sekaligus mendanai proyek-proyek pertumbuhan di masa depan meski beban liabilitas tinggi (US$ 2,25 miliar per kuartal III-2024).

Meskipun prospek positif, terdapat risiko dari volatilitas harga dan biaya operasional. Timothy mencatat bahwa produksi emas MDKA pada 2025 diproyeksikan turun 5%-13% YoY, sementara produksi tembaga juga lebih rendah. Namun, BRI Danareksa tetap optimis, memproyeksikan MDKA mencetak laba bersih US$ 80 juta di 2025.

Berburu Dividen Besar dari Emiten BUMN

HR1 13 Feb 2025 Kontan (H)
Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) diproyeksikan akan memiliki modal besar di awal operasinya, dengan potensi dividen dari beberapa BUMN, terutama tiga bank pelat merah.

BRI diperkirakan menjadi penyumbang dividen terbesar, dengan rasio dividend payout 80%-85% dari laba bersih Rp 60,15 triliun. Direktur Utama BRI, Sunarso, menyebut rasio tersebut tidak akan lebih rendah dari tahun sebelumnya. Artinya, BRI berpotensi membagi dividen Rp 48,1 triliun-Rp 51,1 triliun. Dari jumlah tersebut, Danantara akan menerima sekitar Rp 25,6 triliun-Rp 27,2 triliun.

Bank Mandiri juga akan membagi dividen dengan rasio sekitar 60%. Direktur Keuangan Bank Mandiri, Sigit Prastowo, menyatakan bahwa rasio tersebut akan dijaga seperti lima tahun terakhir. Dengan laba bersih Rp 55,78 triliun, dividen yang berpotensi diterima Danantara dari Mandiri sekitar Rp 17,4 triliun.

Sementara itu, Direktur Utama BNI, Royke Tumilaar, menargetkan rasio dividen 55%-60% dari laba bersih Rp 21,46 triliun. Danantara berpotensi menerima sekitar Rp 6,96 triliun-Rp 7,63 triliun dari BNI.

Total dana yang akan dikelola Danantara dari ketiga bank ini mencapai Rp 49,95 triliun-Rp 52,2 triliun, dengan asumsi seluruh dividen disetorkan ke Danantara.

Selain bank, emiten lain seperti Telkom, Aneka Tambang (ANTM), Bukit Asam (PTBA), dan Timah (TINS) juga berpotensi menyumbang dividen besar. Konsensus analis memprediksi dividen Telkom sekitar Rp 9,02 triliun berdasarkan laba bersih Rp 24,04 triliun.

Dengan potensi dividen dari BUMN-BUMN besar ini, Danantara diperkirakan memiliki dana awal yang signifikan untuk mendukung operasinya dan meningkatkan kontribusi terhadap pendapatan negara.

Berburu Dividen Besar dari Emiten BUMN

HR1 13 Feb 2025 Kontan (H)
Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) diproyeksikan akan memiliki modal besar di awal operasinya, dengan potensi dividen dari beberapa BUMN, terutama tiga bank pelat merah.

BRI diperkirakan menjadi penyumbang dividen terbesar, dengan rasio dividend payout 80%-85% dari laba bersih Rp 60,15 triliun. Direktur Utama BRI, Sunarso, menyebut rasio tersebut tidak akan lebih rendah dari tahun sebelumnya. Artinya, BRI berpotensi membagi dividen Rp 48,1 triliun-Rp 51,1 triliun. Dari jumlah tersebut, Danantara akan menerima sekitar Rp 25,6 triliun-Rp 27,2 triliun.

Bank Mandiri juga akan membagi dividen dengan rasio sekitar 60%. Direktur Keuangan Bank Mandiri, Sigit Prastowo, menyatakan bahwa rasio tersebut akan dijaga seperti lima tahun terakhir. Dengan laba bersih Rp 55,78 triliun, dividen yang berpotensi diterima Danantara dari Mandiri sekitar Rp 17,4 triliun.

Sementara itu, Direktur Utama BNI, Royke Tumilaar, menargetkan rasio dividen 55%-60% dari laba bersih Rp 21,46 triliun. Danantara berpotensi menerima sekitar Rp 6,96 triliun-Rp 7,63 triliun dari BNI.

Total dana yang akan dikelola Danantara dari ketiga bank ini mencapai Rp 49,95 triliun-Rp 52,2 triliun, dengan asumsi seluruh dividen disetorkan ke Danantara.

Selain bank, emiten lain seperti Telkom, Aneka Tambang (ANTM), Bukit Asam (PTBA), dan Timah (TINS) juga berpotensi menyumbang dividen besar. Konsensus analis memprediksi dividen Telkom sekitar Rp 9,02 triliun berdasarkan laba bersih Rp 24,04 triliun.

Dengan potensi dividen dari BUMN-BUMN besar ini, Danantara diperkirakan memiliki dana awal yang signifikan untuk mendukung operasinya dan meningkatkan kontribusi terhadap pendapatan negara.