Ekonomi Ditargetkan Tumbuh 6% Tahun Depan
Pemerintah menargetkan,
ekonomi Indonesia pada 2022 tumbuh 5,2%
- 6%, sedikit lebih tinggi dari target dalam
asumsi dasar ekonomi makro APBN 2021 yang
sebesar 5%. Untuk mencapai target tersebut,
defisit APBN dalam postur makro fiskal 2022
ditargetkan dalam kisaran 4,51% - 4,85%
terhadap produk domestik bruto (PDB) atau
Rp 808,2 triliun hingga Rp 879,9 triliun.
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala
Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas)
Suharso Monoarfa menyatakan,
pertumbuhan ekonomi tahun
depan diperkirakan akan terakselerasi, sehingga 2022 diharapkan bisa menjadi tahun kunci
bagi Indonesia untuk pulih cepat
dari kemerosotan ekonomi akibat tekanan pandemi Covid-19.
“Sasaran pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2022 adalah
5,4% - 6%. Tentu dalam perhitungan fiskal yang konservatif
mungkin bisa dihitung 5,2%
sam pai 5,6% dengan tingkat
kehati-hatian yang tinggi,” ucap
Suharso dalam sambutannya
se cara daring pada acara Rapat
Koordinasi Pembangunan Pusat
2021 pada Kamis (29/4).
Pertumbuhan 5,2% - 6% tersebut, kata dia, menjadi satu dari
enam fokus sasaran pembangunan Rencana Kerja Permerintah
(RKP) 2022. Lima fokus lainnya
adalah indeks pembangunan
manusia 73,44 - 73,48, tingkat
pengangguran terbuka sebesar
5,5 – 6,2%, tingkat kematian menjadi 8,5 – 9,0%, rasio gini 0,376 -
0,378, dan penurunan emisi gas
rumah kaca 26,8 – 27,1%.
Pada kesempatan yang sama,
Menteri Keuangan Sri Mulyani
Indrawati menyatakan, target
pertumbuhan ekonomi yang
konservatif untuk dicapai pada
2022 berada di kisaran 5,2%
hingga 5,8%. Proyeksi tersebut
dapat terjadi jika reformasi
struktural terus dilakukan.
Sri Mulyani juga mengatakan,
target defisit fiskal 4,51% - 4,85%
pada 2022 tersebut menurun dibandingkan target defisit tahun
ini yang ditetapkan 5,7% terhadap PDB atau setara Rp 1.006,4
triliun. “Dengan defisit yang
ma sih 4,5% sampai 4,8%, maka
pembiayaan 2022 akan terus
dijaga secara prudent,” kata dia
Sementara itu, untuk target
pembiayaan anggaran 2022
akan berasal dari utang neto
4,81% sampai 5,8% dan investasi
minus 0,3% sampai minus 0,95%
sehingga rasio utang ditetapkan
43,76% sampai 44,28% dengan
titik tengah 41,05%. Untuk keseimbangan primer tahun depan
minus Rp 414,1 triliun sampai
minus Rp 480,5 triliun atau minus 2,31% - minus 2,65% terhadap
PDB.
(Oleh - HR1)
Tags :
#EkonomiPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023