;

Indonesia Bersiap Jadi Raja Hilir Sawit Dunia

Ekonomi R Hayuningtyas Putinda 04 Jan 2021 Investor Daily, 4 Januari 2021
Indonesia Bersiap Jadi Raja Hilir Sawit Dunia

Pemerintah tengah berupaya mengubah posisi Indonesia dari Raja CPO (minyak sawit mentah/crude palm oil) menjadi Raja Hilir Sawit pada 2045 mendatang. Terdapat sejumlah kebijakan yang ditempuh pemerintah guna mewujudkan target tersebut, di antaranya pengenaan bea keluar (duty) dan pungutan ekspor (levy), serta mandatori biodiesel untuk substitusi solar impor.

Deputi II Bidang Pangan dan Agribisnis Kemenko Perekonomian Mushdalifah Machmud menuturkan ekspor produk hilir sawit Indonesia sudah jauh lebih besar dari produk hulu, untuk produk hilir 60-70% dan produk hulu hanya 30-40%. Terdapat kebijakan pemerintah untuk merubah Indonesia menjadi Raja Hilir Sawit dunia, kebijakan lainnya pemberian insentif pajak berupa tax allowance, tax holiday, pembebasan bea impor atas mesin serta barang dan bahan modal. Pemerintah telah menyiapkan tiga jalur hilirisasi industry CPO, Pertama oleopangan (oleofood complex) dengan produk minyak goreng sawit, margarin, vitamin A, vitamin E, shortening, ice cream, creamer dan cocoa butter atau specialty fat. Kedua hilirisasi oleokimia (oleochemical complex) dengan produk biosurfaktan (contoh: produk detergen, sabun dan sampo), biolubrikan (biopelumas) dan biomaterial (contoh bioplastik). Ketiga, hilirisasi biofuel (biofuel complex) dengan produk berupa biodiesel, biogas, biopremium, biovatur dan lainnya. Pemerintah juga akan Sertifikasi Sawit Berkelanjutan Indonesia (Indonesian Sustainable Palm Oil System /ISPO). Kapasitas produksi industry pengolahan kelapa sawit dan turunannya mencapai 93,50 juta ton pada triwulan III-2020 atau meningkat dari periode yang sama 2019 sebesar 87,05 juta ton. Jenis ragam produknya juga bertambah, dari semula 126 produk pada 2014 menjadi 170 produk pada 2020 yang di dominasi produk pangan dan bahan kimia, dan posisi Indonesia bersaing dengan Malaysia.

Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) ) Sahat Sinaga mengatakan, khusus untuk produk oleokimia posisi Indonesia dan Malaysia hampir sama dari sisi jumlah, Indonesia belum menjadi Rajar Hilir Sawit karena teknologi dan pengembangan yang belum optimal. (research and development/R&D). GIMNI optimistis dengan adanya pendanaan dari Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) maka akan mampu meng-encourage atau mendukung berbagai penelitian sawit. Produk hilir sawit terbagi menjadi empat, yakni food dan specialty fat, oleokimia, bahan bakar nabati (BBN), dan biomassa. Produk hilir yang dihasilkan Indonesia dan Malaysia tidak jauh berbeda (Indonesia 49 produk) dari sisi food dan specialty fat (refinery) jumlah produk Indonesia lebih banyak (90 produk). Sedangkan dari sisi biomassa (tandan dan cangkang sawit), Indonesia dan Malaysia masih sama-sama dalam tahap pengembangan. Untuk BBN, Indonesia adalah leading -nya, BBN itu di antaranya FAME dan biolubrikan (pelumas sawit) 

Tags :
#Sawit
Download Aplikasi Labirin :