Indonesia Bersiap Jadi Raja Hilir Sawit Dunia
Pemerintah tengah berupaya
mengubah posisi Indonesia dari Raja CPO (minyak sawit mentah/crude palm oil) menjadi Raja Hilir Sawit
pada 2045 mendatang. Terdapat sejumlah kebijakan yang ditempuh pemerintah guna
mewujudkan target tersebut, di antaranya pengenaan bea keluar (duty) dan pungutan ekspor (levy), serta mandatori biodiesel untuk
substitusi solar impor.
Deputi II Bidang Pangan dan Agribisnis Kemenko Perekonomian Mushdalifah Machmud menuturkan ekspor produk hilir sawit Indonesia sudah jauh lebih besar dari produk hulu, untuk produk hilir 60-70% dan produk hulu hanya 30-40%. Terdapat kebijakan pemerintah untuk merubah Indonesia menjadi Raja Hilir Sawit dunia, kebijakan lainnya pemberian insentif pajak berupa tax allowance, tax holiday, pembebasan bea impor atas mesin serta barang dan bahan modal. Pemerintah telah menyiapkan tiga jalur hilirisasi industry CPO, Pertama oleopangan (oleofood complex) dengan produk minyak goreng sawit, margarin, vitamin A, vitamin E, shortening, ice cream, creamer dan cocoa butter atau specialty fat. Kedua hilirisasi oleokimia (oleochemical complex) dengan produk biosurfaktan (contoh: produk detergen, sabun dan sampo), biolubrikan (biopelumas) dan biomaterial (contoh bioplastik). Ketiga, hilirisasi biofuel (biofuel complex) dengan produk berupa biodiesel, biogas, biopremium, biovatur dan lainnya. Pemerintah juga akan Sertifikasi Sawit Berkelanjutan Indonesia (Indonesian Sustainable Palm Oil System /ISPO). Kapasitas produksi industry pengolahan kelapa sawit dan turunannya mencapai 93,50 juta ton pada triwulan III-2020 atau meningkat dari periode yang sama 2019 sebesar 87,05 juta ton. Jenis ragam produknya juga bertambah, dari semula 126 produk pada 2014 menjadi 170 produk pada 2020 yang di dominasi produk pangan dan bahan kimia, dan posisi Indonesia bersaing dengan Malaysia.
Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak
Nabati Indonesia (GIMNI) ) Sahat Sinaga mengatakan, khusus untuk produk oleokimia
posisi Indonesia dan Malaysia hampir sama dari sisi jumlah, Indonesia belum
menjadi Rajar Hilir Sawit karena teknologi dan pengembangan yang belum optimal.
(research and development/R&D).
GIMNI optimistis dengan adanya pendanaan dari Badan Pengelola Dana Perkebunan
Kelapa Sawit (BPDPKS) maka akan mampu meng-encourage
atau mendukung berbagai penelitian sawit. Produk hilir sawit terbagi menjadi
empat, yakni food dan specialty fat, oleokimia, bahan bakar
nabati (BBN), dan biomassa. Produk hilir yang dihasilkan Indonesia dan Malaysia
tidak jauh berbeda (Indonesia 49 produk) dari sisi food dan specialty fat (refinery) jumlah produk Indonesia lebih
banyak (90 produk). Sedangkan dari sisi biomassa (tandan dan cangkang sawit),
Indonesia dan Malaysia masih sama-sama dalam tahap pengembangan. Untuk BBN,
Indonesia adalah leading -nya, BBN
itu di antaranya FAME dan biolubrikan (pelumas sawit)
Tags :
#SawitPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023