Perekonomian Jelang Tutup Tahun, Pendapatan Negara Terpukul Pandemi
Pendapatan negara hingga November 2020 mengalami penurunan sebesar 15,1% secara tahunan menjadi
Rp1.423 triliun dibandingkan dengan 2019 yang mencapai Rp1.676 triliun.
Sementara itu, kalangan ekonom menilai
bahwa kondisi yang
sedang krisis karena
pandemi Covid-19
berdampak langsung pada penerimaan negara,
khususnya pajak. Begitu pula
dengan produksi meski pemerintah mengklaim kondisi perlahan membaik.
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan realisasi penerimaan tersebut sudah
mencapai 83,7% berdasarkan
Peraturan Presiden (Perpres)
72/2020.
Sri Mulyani menjelaskan
bahwa berdasarkan komponennya, penerimaan pajak tercatat
sebesar Rp925,34 triliun atau
mencapai 77,2% dari target
Rp1.198,8 triliun.
Adapun untuk penerimaan
negara bukan pajak (PNBP),
tercatat sebesar Rp304,9 triliun.
Capaian tersebut telah melebihi 100% target, yaitu Rp294
triliun.
Selain itu, hibah juga melebihi target karena berhasil terkumpul Rp9,3 triliun. Perpres
72/2020 mematok penerimaan
hibah sebesar Rp1,3 triliun,
sehingga realisasinya 714,1%
Jika diperinci, belanja
pemerintah pusat mencapai
Rp1.558,7 triliun, sehingga pengeluaran tersebut 78,8% dari
target Rp1.975,2 triliun.
Adapun, untuk transfer ke
daerah dan dana desa (TKDD)
sebesar Rp748 triliun. Dalam
hal ini tingkat pencapaiannya sudah 97,9% dari target
Rp763,9 triliun. Di sisi lain
keseimbangan primer defisit
adalah Rp582,7 triliun dan
berdasarkan Perpres 72/2020
dipatok Rp700,4 triliun, sehingga tercapai 83,2%.
Dihubungi secara terpisah,
ekonom Bank BCA David Sumual mengatakan bahwa baik
pendapatan maupun belanja
pemerintah jauh dari pencapaian karena tahun ini penuh
dengan ketidakpastian. Pandemi Covid-19 menjadi masalah
utamanya.
Penerimaan yang masih
83,7% disebabkan banyak
sektor industri lesu, sehingga
hampir semua merugi dan
akibatnya sulit membayar
pajak.
“Di sisi lain aktivitas
ekonomi juga menurun.
Kalau menurun, pajak
seperti PPn menurun,”
katanya.
Adapun untuk 2021, menurut
dia, akan berbeda perlakuannya karena fokus pemerintah
pada meningkatkan kapasitas
produksi, tidak lagi sepenuhnya
bantuan sosial. Distribusi vaksin
Covid-19 pada triwulan I diharapkan bisa menjadi pengubah
permainan.
“Sehingga mobilitas masyarakat jadi lebih bagus untuk
triwulan II, III, dan IV. Kalau
konsumsi domestik sudah pulih,
paling tidak 3,5% pertumbuhan ekoonmi sudah di tangan,”
ucapnya
Tags :
#Penerimaan NegaraPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023