;

Usaha Rintisan, Pemodal Rajin Guyur Tekfin

Teknologi R Hayuningtyas Putinda 08 Dec 2020 Bisnis Indonesia
Usaha Rintisan, Pemodal Rajin Guyur Tekfin

Hadirnya bisnis teknologi finansial (tekfin) telah menawarkan cakrawala baru di industri keuangan Indonesia. Perusahaan rintisan (startupfinancial technology atau fintech menjadi salah satu sektor yang dilirik investor, terlebih saat pandemi corona atau Covid-19. Meski persaingan di bisnis tersebut ketat, potensi konsolidasi hingga merger dengan sektor tersebut masih terbuka. Laporan Google, Temasek, Bain and Company dalam e-Conomy 2020 menunjukkan pendanaan untuk startup fintech di kawasan Asia Tenggara meningkat pada 2019 mencapai US$ 1,7 miliar.

 Asosiasi Modal Ventura Indonesia (Amvesindo) juga mencatatkan data serupa. Amvesindo mencatat sebanyak 25% dari 32 perusahaan rintisan yang meraih pendanaan per kuartal II/2020 merupakan fintech. Managing Partner Kejora Ventures Eri Reksoprodjo mengatakan startup keuangan menjadi alternatif investasi yang menarik, termasuk dalam bentuk equity investment atau menjadi pemegang saham. Potensi ini seiring investor masih melihat financial gap di Indonesia.

Untuk itu, salah satu strategi yang terpenting agar fintech sektor keuangan dapat sukses adalah menerapkan strategi kolaborasi partnership atau masuk ke dalam ekosistem bisnis tersebut. Kendati begitu, investor juga akan lebih berhati-hati dalam memberikan suntikan modal. Namun, potensi startup, khususnya di Indonesia dinilai masih sangat besar. 

CEO Mandiri Capital Indonesia (MCI) Eddi Danusaputro menilai bahwa sektor fintech masih diminati. MCI saat ini telah memberikan  suntikan modal kepada 13 perusahaan rintisan yang seluruhnya di sektor fintech. Adapun, beberapa portofolio fintech yang telah menerima pendanaan dari MCI meliputi Amartha, Investree, Moka, Mekari, Privy ID dan Cashlez. Nama-nama tersebut merupakan nama yang sudah terbukti valuasi naik terus tiap tahun. Paling tidak 1 tahun ada tiga fintech yang diincar.

Download Aplikasi Labirin :