Pengangguran Dan Resesi, Hubungan Segitiga Yang Kian Ruwet
Kemarin, Badan Pusat Statistik (BPS) melansir data sensus
ketenagakerjaan per Agustus 2020 Notabene, data ketenagakerjaan hanya
direkapitulasi otoritas statistik dua kali dalam setaun, yaitu periode Februari
dan Agustus. Dalam laporan terbaru, BPS mencatat tingkat pengangguran terbuka
(TPT) Agustus 2020 menembus 7,07% atau naik 1,84% dibandingkan dengan Agustus
2019. Ini sekaligus merupakan capaian TPT terburuk, setidaknya dalam 5 tahun
terakhir. Normalnya, rerata TPT di Indonesia adalah sekitar 5%.
Menyadari hal itu, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani mengaku pengusaha terus putar otak untuk mencegah dampak fatal dari tingginya pengangguran terhadap kinerja sektor rill, yang tengah ditekan itu kelesuan permintaan. Hariyadi memproyeksikan TPT di Tanah Air baru bisa kembali ke situasi prapandemi paling cepat pada 2022. Bahkan untuk menekan TPT sebesar 1% saja masih sulit direalisasikan tahun depan, karena banyak perusahaan yang meneruskan strategi efisiensi.
Sementara
itu, Sekjen Organisasi Pekerja Seluruh Indonesia Timboel Siregar menilai tak
ada cara selain memacu pembukaan lapangan kerja sektor Informal untuk
menyeimbangkan kinerja industri, pasar kerja, dan pertumbuhan ekonomi.
Menurutnya, upaya menggenjot penciptaan lapangan kerja di sektor informal akan efektif menekan lagi TPT 2021 ke level normal 4,5%-5%. Jelas, hubungan segitiga antara pasar kerja, dunia industri, dan perekenomian secara umum sedang karut marut.
Tags :
#KeuanganPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023