Wavin Bangun Pabrik US$ 125 Juta di Batang
Produsen
pipa plastik asal
Belanda, Wavin BV
akan membangun
pabrik senilai US$ 125
juta atau Rp 1,7 triliun
di Kawasan Industri
Terpadu (KIT) Batang,
Jawa Tengah. Komitmen
tersebut disampaikan
dalam pertemuan Wavin
dengan Kepala Badan
Koordinasi Penanaman
Modal (BKPM) Bahlil
Lahadalia di Den Haag,
Kamis (19/11).
“Kami menawarkan Wavin bisa
membangun pabriknya di KIT Batang.
KIT Batang menawarkan harga tanah
yang sangat kompetitif. Fasilitas dan
infrastrukturnya juga sangat memadai,” kata Bahlil kepada Presiden
APAC Wavin Group Freek Crump dan
penanggung jawab Wavin wilayah Asia
Pasifik Johanes Dress
Menurut Bahlil, dengan masifnya
pembangunan infrastruktur di Indonesia, Wavin bisa berperan sebagai pemasok kebutuhan pipa, dan dapat memenuhi kebutuhan pipa nasional. Di
sisi lain, dengan adanya kebijakan
pemerintah memperketat impor untuk
kebutuhan material pembangunan
infrastruktur, Wavin telah mengambil
langkah yang tepat dengan rencana
pembangunan pabriknya di Indonesia.
Bahlil mengungkapkan, produsen
pipa itu berencana untuk membangun
pabriknya di salah satu lokasi di Pulau
Jawa. Namun berdasarkan kalkulasi logistik dan transportasi, wilayah
tersebut kurang efisien. Sementara itu
KIT Batang dinilai siap menyediakan
lahan seluas 20 hektare untuk dijadikan lokasi investasi
Wavin merupakan produsen pipa
plastik dunia berbasis di Zwolle,
Belanda, dan telah berdiri sejak
1955. Perusahaan tersebut mampu
mengembangkan berbagai produk
pipa yang ramah lingkungan untuk
kepentingan fasilitas drainase dan
suplai air.
Di sisi lain, di tengah tekanan berat
akibat pandemi Covid-19, realiasi investasi manufaktur mencapai Rp 72,3
triliun sepanjang kuartal III-2020, naik
69,3% dibandingkan periode sama
tahun 2019.
“Dari nilai investasi tersebut, sektor
industri pengolahan berkontribusi
sebesar 34,6% terhadap total investasi
Indonesia yang sebesar Rp 209 triliun pada kuartal III-2020,” kata Kepala
Pusat Data dan Informasi Kementerian
Perindustrian (Kemenperin) R Janu
Suryanto di Jakarta, belum lama ini
Janu melanjutkan, realisasi PMA
sektor industri pengolahan pada Januari-September 2020 didominasi oleh
sektor industri logam dasar dengan
nilai US$ 4,4 miliar atau berkontribusi
sebesar 45,8%. Selanjutnya, industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia
senilai US$ 1,21 miliar atau berkonbtribusi 12,5%, serta industri makanan
sebesar US$ 1,07 miliar dengan kontribusi 11%.
Tags :
#InfrastrukturPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023