;

Pasca ICBFBM, Sumut Berpeluang Raih Devisa Senilai Rp 8,3 Triliun

Ekonomi Mardian 20 Nov 2020 Sinar Indonesia Baru
Pasca ICBFBM, Sumut Berpeluang Raih Devisa Senilai Rp 8,3 Triliun

Pasca pelaksanaan bursa bisnis internasional antara Indonesia dan China melalui Indonesia China Business Forum dan Business Matching (ICBFBM) di Shanghai-China pada 5-10 November kemarin, daerah Sumatera Utara sangat berpeluang besar meraih sebagian jatah atau devisa dari total Rp 8,3 triliun nilai ekspor yang berpotensi dari kerja sama tersebut.

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Provinsi Sumatera Utara, Khairul Mahalli yang juga Ketua Umum Gabungan Perusahaan Eksportir Indonesia (GPEI) Sumut, menegaskan peluang besar tersebut dikarenakan Sumut memiliki persediaan produk yang selama ini dibutuhkan konsumen di China, termasuk produk-produk dari kalangan usaha kecil-menengah (UKM) yang menembus pasar kelas menengah di negeri panda itu.

Bersama wakil ketua umum Gabungan Pengusaha Ekspor Indonesia (GPEI) Provinsi Sumut, Tonny Silvaraja, Khairul Mahalli, menyatakan peluang devisa bisnis dari China itu sejalan dengan program KADINSU dan GPEI Sumut yang telah mencanangkan misi 'UKM Sumut Go Export' pada awal tahun lalu, (sebelum ada lock down atau PSPB akibat Covid-19).

ICBFBM itu memang hanya diikuti 16 pelaku usaha dan praktisi bisnis barang ekspor dari Indonesia, dan 5 calon konsumen (buyer) di China. Di sektor niaga, China adalah negara importir terbesar produk-produk asal Indonesia (secara kumulatif) selama ini, dengan porsi 10,37 persen, disusul ekspor ke Amerika Serikat 12,14 persen dan ke Jepang 8,44 persen.

Nilai ekspor Indonesia ke China selama ini mencapai nilai 21,81 miliar dollar AS yang didominasi ekspor nonmigas dengan kontribusi sebesar 20,44 miliar dollar AS. Sementara itu, nilai impor Indonesia dari China mencapai 28,46 miliar dollar AS.

 


Download Aplikasi Labirin :