;

Proyeksi Asia Tenggara, Mengintip Peta Ekonomi Digital Indonesia

Ekonomi R Hayuningtyas Putinda 16 Nov 2020 Bisnis Indonesia
Proyeksi Asia Tenggara, Mengintip Peta Ekonomi Digital Indonesia

Riset Google, Temasek dan Bain memperkirakan ekonomi digital Indonesia tumbuh hampir tiga kali lipat menjadi US$124 miliar pada 2025 dari tahun ini. Proyeksi tersebut turun dari perkiraan sebelumnya sebesar US$133 miliar. Apa penyebabnya? 

Riset Google, Temasek dan Bain memperkirakan ekonomi digital Indonesia tumbuh hampir tiga kali lipat menjadi US$124 miliar pada 2025 dari tahun ini. Proyeksi tersebut turun dari perkiraan sebelumnya sebesar US$133 miliar. Apa penyebabnya? Ekonomi berbasis internet Asia Tenggara diprediksi akan mengalami pertumbuhan lebih cepat hingga 2025, termasuk Indonesia karena menggeliatnya transaksi dagang elektronik (e-commerce) seperti Bukalapak, Shoppe, Lazada, hingga Tokopedia. Kondisi tersebut terdorong adanya pergeseran perilaku masyarakat karena pandemi virus corona atau Covid-19.

Laporan Google, Temasek Holding Pte dan Bain & Co. memproyeksikan bahwa nilai ekonomi berbasis internet di Asia Tenggara akan mengalami peningkatan lebih cepat menjadi lebih dari US$300 miliar pada 2025. Dalam riset tersebut, belanja daring di kawasan Asia Tenggara diperkirakan mencapai US$172 miliar pada 2025, lebih tinggi dibandingkan perkiraan sebelumnya sebesar US$153 miliar. 

Di sisi lain, pandemi juga mempercepat adopsi layanan keuangan online karena lebih banyak konsumen yang mengandalkan cara pembayaran dan transfer uang tanpa kontak, serta menghindari uang tunai. Adapun, industri pinjaman digital, tidak berubah dari tahun lalu sebesar US$23 miliar. Hal tersebut mencerminkan adanya kekhawatiran atas kredit macet.

Sementara di tahun ini, Google, Temasek, dan Bain dalam laporan bertajuk e-Conomy SEA 2020 memperkirakan, nilai ekonomi berbasis internet di Asia Tenggara mencapai US$ 105 miliar atau sekitar Rp1.475 triliun pada tahun ini. Indonesia menyumbang sebanyak US$44 miliar atau kurang lebih Rp619 triliun.

Meskipun demikian, nilai investasi di sektor internet di Indonesia mengalami peningkatan pada paruh pertama tahun ini sebesar US$2,8 miliar, dibandingkan dengan tahun sebelumnya di periode yang sama sebesar US$1,8 miliar. Sementara, pertumbuhan di Malaysia, Filipina, dan Thailand sekitar 6%—7%, sedangkan Singapura turun 24% menjadi US$ 9 miliar tahun ini, disumbang sektor pariwisata atau online travel. Sebelumnya, survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet (APJII) menunjukkan jumlah pengguna internet di Indonesia hingga kuartal II tahun ini naik menjadi 73,7%, dari populasi atau setara 196,7 juta pengguna.

Ketua Umum APJII Jamalul Izza mengatakan kenaikan jumlah penggguna itu antara lain disebabkan beberapa faktor, seperti infrastruktur internet cepat atau broadband di Indonesia semakin merata dengan adanya Palapa Ring, transformasi digital semakin masif akibat pembelajaran online dan kebijakan bekerja dari rumah (work form home) akibat pandemi Covid-10 sejak Maret lalu. 

Tags :
#Ekonomi
Download Aplikasi Labirin :