;

Di Bawah Ancaman Resesi Panjang

Di Bawah Ancaman Resesi Panjang

Kepala Ekonom PT Bank CIMB Niaga Tbk Adrian Panggabean mengatakan pelemahan aktivitas ekonomi berpotensi akan berlanjut hingga triwulan pertama tahun depan. Pertumbuhan ekonomi pada triwulan terakhir tahun ini pun diperkirakan masih akan berada di zona negatif, yaitu terkontraksi sebesar minus 2,3 persen.

Adrian mengatakan kecenderungan kenaikan aktivitas penduduk masih terkonsentrasi oleh mobilitas intra-kota. Aktivitas konsumsi domestik, indikator angka deflasi yang terus terjadi di triwulan ketiga, meningkatnya angka kemiskinan, dan terus turunnya nilai impor barang konsumsi menguatkan kesimpulan bahwa kontraksi dalam konsumsi rumah tangga masih cukup dalam.

Dinamika di pasar pembiayaan juga menunjukkan pelemahan. Pertumbuhan kredit bank masih bergerak turun dan mencapai titik terendah, yaitu hanya 0,1 persen pada September 2020.

Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk Josua Pardede berujar bahwa salah satu penyebab pemulihan ekonomi yang masih lambat adalah angka kasus Covid-19 yang masih tinggi beberapa waktu terakhir dan adanya penerapan kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di Ibu Kota Jakarta pada awal September.

Untuk mendorong pertumbuhan, pemerintah harus mengoptimalkan belanja, khususnya realisasi penyerapan dana program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) untuk pembiayaan korporasi serta usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Apalagi anggaran program PEN untuk mendukung sisi produksi atau suplai masih rendah jika dibanding realisasi anggaran untuk sisi konsumsi, seperti bantuan sosial.

IMF memprediksi kontraksi pertumbuhan ekonomi bakal lebih dalam, yakni sebesar -1,5 persen.

Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta W. Kamdani berujar, pada triwulan keempat, pelaku usaha di berbagai sektor berharap terjadi peningkatan konsumsi musiman menjelang akhir tahun, baik dari domestik maupun pasar global.

Tags :
#Bisnis #Ekonomi
Download Aplikasi Labirin :