Cadangan Devisa, Waspadai Gerak Mata Uang Garuda
Bank Indonesia ( BI ) melaporkan, cadangan devisa mengalami penyusutan dari U$$ 137,0 miliar pada Agustus 2020 menjadi sebesar U$$ 135,2 miliar pada September 2020. Penurunan tersebut disebabkan oleh pembayaran utang luar negeri pemerintah dan kebutuhan untuk stabilitasi nilai tukar rupiah di tengah masih tingginya ketidakpastian pasar keuangan global.
Hal itu tercermin dalam arus keluar modal asing di pasar obligasi yang tercatat mencapai U$$590,78 juta sepanjang bulan ini. Tekanan juga datang dari pasar saham dimana arus keluar modal asing pada periode tersebut mencapai U$$ 1,05 miliar. Secara total, arus modal asing yang keluar dari pasar keuangan Indonesia sebesar U$$ 1,64 miliar. Inilah yang menurut ekonom Bank Permata Josua Pardede menjadi penyebab terkurasnya cadangan devisa. Sementara itu dari dalam negeri, resesi yang dialami oleh Indonesia juga memiliki dampak terhadap persepsi investor, terutama asing.
Impor yang masih lemah akan mengurangi defisit transaksi berjalan (current account defisit/CAD), sehingga dapat mendukung neraca pembayaran. Diperkirakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diproyeksikan ditutup pada level Rp. 14.296 pada akhir 2020, masih terdepresiasi dibandingkan dengan akhir 2019 yang sebesar Rp. 13.866. Sementara itu, bank sentral dalam keterangan tertulisnya mengklaim bahwa posisi cadangan devisa pada September 2020 tetap tinggi, serta berada diatas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023