Menakar Keadilan Pajak Layar Perak: Tantangan Film Nasional di Tengah Serbuan Sinema Asing
Jakarta - Diskusi mengenai
keberpihakan negara terhadap industri kreatif kembali mencuat ke permukaan.
Jagat media sosial, khususnya platform X, sempat diramaikan oleh
potongan video Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) Panitia Kerja (Panja)
Kreativitas dan Distribusi Film Nasional di DPR RI yang berlangsung pada 8
April 2026. Dalam rekaman tersebut, sejumlah tokoh kunci perfilman tanah air,
seperti Direktur Utama MD Pictures Manoj Punjabi dan CEO Visinema Pictures
Angga Dwimas Sasongko, menyuarakan keluh kesah yang mendalam mengenai struktur
perpajakan bioskop di Indonesia.
Isu ini sebenarnya bukan barang
baru. Jauh sebelum video tersebut viral, tepatnya pada 17 Oktober 2025, jajaran
Direktorat Jenderal Pajak (DJP) telah menggelar pertemuan hangat dengan
Persatuan Produsen Film Indonesia (PPFI), Asosiasi Produser Film Indonesia
(Aprofi), dan Asosiasi Pengusaha Film Indonesia (APFI). Pertemuan yang dihadiri
oleh figur publik sekaligus produser film seperti Deddy Mizwar dan artis Luna
Maya tersebut menjadi ruang bagi otoritas pajak untuk menampung aspirasi,
dengan komitmen untuk mengkaji insentif yang dapat melindungi serta mendukung
ekosistem sinema domestik.
Namun, mengapa riak ketidakpuasan
tetap muncul di ruang publik? Guna memahami persoalan ini secara jernih,
diperlukan lensa yang objektif untuk membedah anatomi Pajak Pertambahan Nilai
(PPN) yang membalut industri seluloid kita.
Labirin Regulasi dan Ilusi
"PPN Ganda"
Keluhan utama yang disuarakan
oleh para sineas nasional bermuara pada satu istilah teknis: tax inequality
atau ketimpangan beban pajak. Industri film lokal merasa harus memikul beban
finansial yang lebih berat untuk menayangkan karyanya di bioskop sendiri
dibandingkan dengan importir film asing.
Secara legal formal, pembuatan
film lokal melibatkan rantai produksi yang sangat panjang. Berdasarkan
Undang-Undang PPN yang berlaku, hampir seluruh komponen hulu—mulai dari jasa
sewa peralatan syuting, teknik editing, animasi, mixing suara, sewa lokasi,
hingga hak pemakaian lagu—merupakan Jasa Kena Pajak (JKP). Di fase ini,
produser lokal wajib membayar PPN Masukan (PM) atas setiap transaksi tersebut.
Pemerintah sebenarnya telah
mencoba melakukan reformasi melalui Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 11
Tahun 2025, yang menetapkan Dasar Pengenaan Pajak (DPP) Nilai Lain sebesar
11/12 dari perkiraan hasil rata-rata per judul film pada saat penyerahan ke
bioskop. Langkah ini dimaksudkan untuk menyederhanakan pemungutan pajak di
hilir.
Sayangnya, hingga saat ini peraturan
Direktur Jenderal Pajak yang menjadi petunjuk teknis pelaksanaan nilai
rata-rata tersebut belum kunjung terbit. Kekosongan regulasi turunan ini membuat
pelaku industri film tetap merujuk pada aturan klasik yang belum dicabut, yakni
Surat Edaran Dirjen Pajak Nomor SE-30/PJ.3/1987.
Di sinilah titik krusialnya.
SE-30/1987 menerapkan skema Deemed Taxable Base yang mematok nilai Rp20
juta per judul film untuk 30 kopi pertama, dan Rp1 juta untuk setiap kopi
berikutnya. Sifat dasar dari skema deemed purba ini adalah tidak
mengenal mekanisme pengkreditan Pajak Masukan.
Akibatnya, terjadi benturan
sistemik. Di fase produksi, produser diperlakukan dengan sistem multistage
levy (harus membayar PPN Masukan), namun di fase penyerahan akhir ke
bioskop, mereka dikunci oleh sistem deemed yang membuat seluruh PPN
Masukan dari biaya produksi tidak bisa dikreditkan. PPN Masukan tersebut
otomatis menjelma menjadi biaya permanen (sunk cost) yang menggerus
margin laba usaha, sebelum kemudian mereka masih harus dihadapkan pada Pajak
Penghasilan (PPh) Badan dan Pajak Barang dan Jasa Tertentu (PBJT) atau Pajak
Hiburan di loket bioskop daerah. Kondisi inilah yang memicu persepsi di
kalangan pelaku industri seolah-olah mereka terkena hantaman "PPN
Ganda".
Belajar dari Lanskap Global
Otoritas pajak di berbagai
belahan dunia pada umumnya memandang industri perfilman bukan sekadar objek
pemungutan penerimaan (revenue getter), melainkan sebagai sektor
strategis yang membawa identitas budaya nasional (soft power). Oleh
sebab itu, fungsi anggaran (budgetair) kerap diselaraskan dengan fungsi
mengatur (regulerend) melalui insentif perpajakan yang agresif.
Sebagai contoh, tetangga dekat
kita, Thailand, menerapkan kebijakan cash rebate berjenjang sebesar 15%
hingga 30% sejak Januari 2025 untuk setiap belanja produksi lokal untuk film.
Inggris Raya memperkenalkan Audio-Visual Expenditure Credit (AVEC) per
April 2024, yang memberikan kredit pajak tunai sebesar 34% bagi film yang lolos
uji kelayakan budaya (cultural test).
Di Asia Timur, Korea Selatan memberikan kredit pajak investasi hingga 15%
bagi UKM film domestik serta insentif tambahan untuk riset teknologi konten
digital. Australia memiliki skema producer offset bersifat refundable
sebesar 40%, sementara Prancis mempertahankan Crédit d'impôt cinéma
(CIC) sebesar 30% yang terbukti sukses menekan relokasi syuting keluar negeri
dari 27% menjadi hanya 10%.
Menjaga Keseimbangan Iklim Fiskal
Melihat data-data di atas, kekhawatiran dan aspirasi para pelaku industri
perfilman nasional sangatlah beralasan. Struktur perpajakan saat ini, yang
belum didukung oleh peraturan turunan komprehensif, secara tidak sengaja telah
menciptakan disinsentif bagi investasi produksi sinema domestik.
Bagi Direktorat Jenderal Pajak, situasi ini merupakan sebuah alarm untuk
segera melakukan akselerasi regulasi. Ketiadaan PER yang mengatur detail
mekanisme perkiraan hasil rata-rata dalam PMK-11/2025 menjadi titik rawan yang
mudah dipolitisasi untuk membangun opini bahwa pemerintah abai terhadap karya
anak bangsa.
Penataan ulang kebijakan fiskal di sektor ini sejatinya tidak harus
dipandang sebagai potensi kehilangan pendapatan negara. Dengan
merestrukturisasi DPP Nilai Lain untuk film impor agar berbasis nilai ekonomi
riil, negara justru berpotensi mendulang penerimaan yang jauh lebih adil. Di
saat yang sama, relaksasi pengkreditan Pajak Masukan atau pemberian insentif
khusus bagi rumah produksi lokal akan menyuntikkan angin segar bagi likuiditas
dan arus kas para sineas.
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023