Meluruskan Pajak Kreator Digital: Bukan Aturan Baru, Melainkan Penegasan Batas
JAKARTA — Riuh rendah di media sosial mengenai hilangnya hak tarif Pajak
Penghasilan (PPh) Final 0,5% bagi para pemengaruh (influencer) akhirnya
mendapat jawaban resmi dari otoritas fiskal. Direktorat Jenderal Pajak (DJP)
Kementerian Keuangan menegaskan bahwa terbitnya Peraturan Pemerintah (PP) Nomor
20 Tahun 2026 bukan merupakan bentuk pengetatan atau pemangkasan insentif bagi
industri kreatif. Langkah ini melainkan penegasan kepastian hukum atas status
profesi kreator digital yang sejak awal masuk dalam rumpun pekerjaan bebas.
Direktur
Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat DJP, Inge Diana Rismawanti,
meluruskan anggapan keliru yang beredar di masyarakat. Menurutnya, apabila
selama ini ada content creator, blogger, maupun YouTuber
yang merasa sah menyetor pajak menggunakan skema PPh Final Usaha Mikro, Kecil,
dan Menengah (UMKM) 0,5%, maka pemahaman tersebut tidak sejalan dengan fondasi
hukum perpajakan.
"Dan sebetulnya kalau mereka selama ini menganggap boleh menggunakan
tarif setengah persen, itu adalah suatu kesalahan. Jadi tidak tepat. Karena
kategori pekerjaan mereka dikategorikan sebagai pekerjaan bebas," ujar
Inge dalam Podcast Cermati. Otoritas menegaskan bahwa status pekerjaan bebas
secara otomatis mengecualikan pelakunya dari rezim PPh Final UMKM yang berbasis
omzet bruto.
Menutup Celah Hukum Melalui PP 20/2026
Secara kronologis, penegasan ini tertuang dalam PP Nomor 20 Tahun 2026
tentang Perubahan atas PP Nomor 55 Tahun 2022 tentang Penyesuaian Pengaturan di
Bidang Pajak Penghasilan, yang diteken oleh Presiden Prabowo Subianto pada 22
April 2026. Perubahan krusial terlihat pada perluasan substansi Pasal 56 ayat
(4) huruf b.
Pada aturan lama (PP 55/2022), kelompok pekerja seni yang dikecualikan dari
PPh Final 0,5% baru mencakup profesi konvensional seperti pemain musik, pembawa
acara, penyanyi, hingga foto model. Namun, dalam beleid baru PP 20/2026,
pemerintah secara eksplisit memasukkan frasa: "pembuat/pencipta konten
pada media yang dibagikan secara daring (influencer atau pemengaruh, selebgram,
bloger, vloger, dan sejenis lainnya)".
Masuknya frasa baru ini menutup celah tafsir ganda (gray area) yang
kerap dimanfaatkan para pembuat konten untuk menyamarkan penghasilannya sebagai
omzet dagang UMKM. Kini, profesi digital disetarakan dengan tenaga ahli
konvensional seperti dokter, pengacara, akuntan, dan arsitek yang wajib
menggunakan mekanisme Pajak Penghasilan umum.
|
Kategori Pajak Berdasarkan PP 20/2026 |
Subjek/Wajib Pajak yang Berhak/Berlaku |
Mekanisme Penghitungan Pajak |
|
Fasilitas PPh Final 0,5% (UMKM) |
Wajib Pajak Orang Pribadi, Koperasi, dan
Perseroan Perorangan (Omzet di bawah Rp4,8 Miliar/Tahun). |
PPh 0,5% langsung dari total peredaran
bruto/omzet bisnis. |
|
Pembebasan Pajak (PTKP Mikro) |
Pelaku UMKM Orang Pribadi dengan omzet
maksimal Rp500 juta dalam satu tahun. |
Nihil (Bebas pajak hingga batas omzet
terpenuhi). |
|
Pekerjaan Bebas (Kreator Digital &
Artis) |
Influencer,
Selebgram, Vlogger, Dokter, Pengacara, Musisi, Olahragawan. |
Tarif progresif umum. Bisa pakai Norma
Penghitungan Penghasilan Neto (NPPN) jika omzet < Rp4,8 Miliar. |
Solusi NPPN
dan Pemisahan Entitas Bisnis
Meskipun wajib menggunakan mekanisme umum dengan tarif progresif, DJP
menyatakan para kreator digital tidak perlu panik kehilangan seluruh fasilitas.
Selama peredaran bruto atau omzet tahunannya dari pekerjaan bebas belum
menembus angka Rp4,8 miliar, mereka masih diizinkan menghitung pajak
menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto (NPPN). Melalui NPPN, wajib
pajak dibebaskan dari kewajiban pembukuan akuntansi yang rumit dan cukup
melakukan pencatatan omzet sederhana.
Di sisi lain, Inge menjelaskan kebingungan publik juga kerap dipicu oleh
adanya pemengaruh yang memiliki lini usaha terpisah berbentuk badan hukum,
seperti perusahaan perencana acara (event organizer). Berdasarkan azas
keadilan, jika aktivitas usahanya berjalan di bawah bendera PT atau CV yang
terpisah dari keahlian pribadinya, maka unit bisnis tersebut sempat diizinkan
menggunakan tarif komersial UMKM sebelum berlakunya limitasi baru.
Melalui PP 20/2026, sasaran penerima fasilitas perpajakan kini
disempurnakan demi menjamin asas keadilan fiskal (tax equity).
Pemerintah memastikan insentif 0,5% murni dinikmati oleh pelaku ekonomi lemah
yang membutuhkan, bukan oleh kelompok profesi dengan kapasitas ability to
pay yang tinggi.
Postingan Terkait
Meningkatkan Pendapatan dari Pajak Digital
UMKM Masih Bisa Nikmati PPh Final Nol
Pemerintah Siap Sasar Pajak Pedagang Online
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023