Belanja Pemerintah Jadi Kunci Pemulihan
Pemerintah Indonesia optimistis pertumbuhan ekonomi pada 2026 dapat mencapai 5,2%–5,8%, dengan fokus pada penguatan konsumsi rumah tangga sebagai motor utama. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menjelaskan, stabilisasi harga, daya beli yang kuat, dan peningkatan lapangan kerja akan menopang pertumbuhan tersebut. Namun, sejumlah ekonom memandang target ini terlalu ambisius.
Bhima Yudhistira, Direktur Eksekutif CELIOS, mengkritik asumsi makro pemerintah yang dinilai terlalu optimistis di tengah tekanan ekonomi global dan prediksi pertumbuhan ekonomi 2025 yang sulit menembus 5%. Ia mendorong pemerintah untuk menyusun APBN yang lebih moderat, fokus menjaga daya beli masyarakat bawah, serta memberi insentif dan stimulus riil yang lebih tepat sasaran, seperti diskon listrik atau perbaikan insentif pajak.
Senada, Banjaran Surya Indrastomo, Chief Economist Bank Syariah Indonesia, menyarankan pemberian stimulus bersama dengan sektor swasta untuk mendorong konsumsi rumah tangga, seperti program diskon dan pajak ditanggung pemerintah untuk barang konsumsi. Ia mencontohkan kebijakan serupa di China yang terbukti mampu mendorong pertumbuhan konsumsi dan PDB.
Sementara itu, Syafruddin Karimi, ekonom Universitas Andalas, menyoroti bahaya ketergantungan berlebihan pada konsumsi rumah tangga. Ia menekankan perlunya transformasi sektor produksi dan industrialisasi bernilai tambah tinggi untuk menciptakan lapangan kerja formal yang berkelanjutan dan memperkuat fondasi ekonomi jangka menengah-panjang.
Meskipun target pertumbuhan pemerintah ambisius, pencapaiannya sangat bergantung pada strategi konkret yang berpihak pada sektor produktif, stimulus yang efektif, dan penguatan daya beli masyarakat secara menyeluruh.
Tags :
#Pertumbuhan EkonomiPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023