Penerbit Indie Tetap Bergeliat Di Tengah Berbagai Kendala
Para pelaku usaha penerbitan indie masih menghadapi berbagai kendala seperti pembajakan, maraknya penggunaan media sosial, dan ekonomi yang belum pulih. Meski demikian, mereka tetap bergeliat untuk tetap meramaikan khazanah literatur di TanahAir. Menurut Pendiri dan Pemimpin Redaksi Marjin Kiri, Ronny Agustinus, di Jakarta, Kamis (22/5) pembajakan sangat menyulitkannya. ”Pembajakan diperlakukan sebagai delik aduan. Problem lama, tapi tak ada tindak lanjut yang signifikan,” ujarnya. Para pemangku kepentingan sudah bertemu berkali-kali tanpa solusi yang memuaskan. Harga produk bajakan bisa lebih rendah hingga sepertiga buku asli, tapi kualitasnya sangat buruk. Banyak konsumen tertipu hanya karena harganya yang rendah. ”Mereka yang bajak enggak perlu bayar macam-macam. Kami harus bayar hak cipta, penerjemah, layout (tata letak), desainer, dan editor,” ujarnya.
Ronny konsisten merawat penerbitannya dengan tak sekadar mempertimbangkan materi. Marjin Kiri juga menjadi ajang pertemanan. ”Usaha yang rewarding (berharga), tapi kalau mau kaya, jangan berkecimpung dalam penerbitan indie,” katanya. Penerbit indie juga menyuburkan minat baca dan kekayaan literatur. Ronny menepis stereotipe generasi muda dengan minat baca yang rendah. ”Saya kurang setuju. Tiap generasi pasti ada yang baca buku dan enggak. Banyak sekali anak muda yang menggerakkan semangat membaca dengan cara tak terpikirkan,” ujarnya. Ia menyebut bookstagram, booktok dan booktweet menyulut minat terhadap sastra lewat konten-konten medsos. Banyak pemengaruh yang mengulas buku juga masih berusia muda. Asalkan jeli mengeksplorasi ceruk pasar yang belum dirambah penerbit lain, Ronny optimistis usahanya akan langgeng.
Ronny mencontohkan Dari Dalam Kubur karya Soe Tjen Marching yang diterbitkan tahun 2019. Ia mengajukan naskah kepada penerbit besar, tetapi terlalu banyak disensor. Marjin Kiri lantas menerbitkan novel itu dan terjual lebih dari 4.000 eksemplar. ”Diedit saja supaya ceritanya lebih fokus. Ternyata, sangat laris. Sebulan terakhir cetak ulang dua kali. Latarnya tahun 1965,” katanya. Banyak pembeli buku itu yang ingin menyusuri peristiwa seputar G30S hingga reformasi. Demikian pula Metode Jakarta yang ditulis Vincent Bevins. Ia memetakan manuver Soeharto untuk mengawali Orde Baru, berikut dampak global yang mengikutinya. Bukuyang diterbitkan pada 2022 tersebut laku lebih dari 5.000 eksemplar. Ronny berharap penerbit indie disokong dengan dana abadi khusus perbukuan lewat berbagai model seperti subsidi kertas, distribusi, hak cipta dan penerjemahan. Marjin Kiri yang berdiri sejak tahun 2005 dengan enam pegawainya menjual 2.300 buku per bulan. Setiap tahun, jumlah itu meningkat 10-15 %. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023