;

Dosen di Maluku-Papua”Nombok” hingga Rp 5 Juta Untuk Riset

Dosen di Maluku-Papua”Nombok” hingga Rp 5 Juta Untuk Riset

Keterbatasan dana penelitian membuat Fes (54) mengeluarkan uang sendiri tanpa ada penggantian. Apalagi, sebagai dosen perguruan tinggi negeri di Maluku, ia mesti merogoh kocek ekstra untuk angkutan antarpulau. Fes mendalami penelitian ekosistem mangrove di Maluku, yang membuatnya mesti berpindah-pindah pulau. ”Meneliti mangrove tidak bisa sendirian. Kadang, saya melibatkan mahasiswa,” katanya, Kamis (8/5). Ketika mengajak mahasiswa meneliti mangrove, ia akan mengeluarkan uang pribadi. Dana itu digunakan untuk transportasi antarpulau dan lokal, akomodasi, konsumsi, hingga tanda terima kasih untuk warga setempat yang memandu. Besaran totalnya minimal Rp 5 juta setiap penelitian. Padahal, gaji pokoknya Rp 4,2 juta per bulan. Apabila jadwalnya pas, dia bersama mahasiswa akan naik kapal angkutan umum untuk pergi ke pulau lokasi riset.

Namun, kadang dia harus menyewa speedboat dengan kapasitas enam orang berbiaya Rp 1 juta, sekali jalan ke pulau tujuan. Begitu sampai di pulau tujuan, ia mesti menyewa perahu kecil dari warga setempat untuk mengelilingi sejumlah titik mangrove dan mengambil data yang dibutuhkan. Pengambilan data di lapangan itu selama satu-dua minggu. Apabila uangnya terbatas, dia akan mengupayakan selesai satu minggu. Pengalaman menombok dana penelitian dengan uang pribadi dialami 50 % dosen PTN. Angka itu mengemuka dari olahan data survei kualitatif Tim Jurnalisme Data Kompas pada 8-23 April 2025 yang melibatkan 36 responden dosen PTN se-Indonesia. Rata-rata dana yang dibutuhkan sekitar Rp 44 juta per penelitian. Sebanyak 27,8 % dosen PTN menyatakan, biaya perjalanan atau akomodasi menjadi pengeluaran terbesar dalam meneliti, terutama di daerah Maluku dan Papua. (Yoga)


Download Aplikasi Labirin :