Ketahanan Fiskal RI Hadapi Ujian Berat
Penurunan tajam pendapatan negara pada kuartal I tahun 2025, yang mencapai Rp516,1 triliun atau turun 12,2% dibandingkan tahun sebelumnya, menjadi sinyal peringatan atas potensi pelebaran defisit fiskal di tengah tantangan ekonomi global dan domestik. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati tetap optimistis, dengan menggarisbawahi adanya tren pemulihan penerimaan pajak pada bulan Maret dan menegaskan bahwa pemerintah akan memperluas basis pajak, termasuk menjangkau sektor ilegal dan menggunakan teknologi digital untuk meningkatkan kepatuhan perpajakan.
Namun, Andry Asmoro, Kepala Ekonom Bank Mandiri, memperingatkan bahwa pelemahan daya beli masyarakat, ketidakpastian global akibat kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump, serta penurunan harga komoditas utama, bisa memperparah kontraksi pendapatan negara dan menyebabkan defisit melampaui target 2,5% PDB.
Fajry Akbar dari CITA juga menyoroti risiko meningkatnya shortfall penerimaan pajak jika pertumbuhan ekonomi tidak sesuai asumsi APBN, terlebih dengan tren turunnya harga komoditas energi dan tekanan terhadap sektor manufaktur nasional akibat limpahan produk impor dari China.
Meski pemerintah masih memiliki ruang untuk menjaga defisit di bawah 3% PDB, efektivitas strategi fiskal ke depan sangat bergantung pada stabilitas global, penguatan sektor domestik, dan peningkatan efisiensi penerimaan negara melalui reformasi pajak yang lebih adaptif dan menyeluruh.
Tags :
#FiskalPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023