Masih Tertinggalnya Perempuan di Dunia Kerja
Tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan masih tertinggal dibanding laki-laki. Walau tingkat pengangguran terbuka (TPT) perempuan dan laki-laki sama-sama turun dan kini hampir setara, perempuan cenderung lebih banyak bekerja paruh waktu serta lebih rentan terserap di sektor informal. Kondisi ini memperlebar kesenjangan kesejahteraan antara perempuan dan laki-laki. Berdasarkan data BPS selama 2021-2024, tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan meningkat, tetapi belum beranjak dari angka 50 %. Tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan mencapai 53,34 % pada Agustus 2021, menjadi 53,41 % pada Agustus 2022, 54,52 % pada Agustus 2023, dan 56,42 % pada Agustus 2024. Pada periode yang sama, tingkat partisipasi angkatan kerja laki-laki sudah berada di angka 80 %.
Laporan studi Bank Dunia bertajuk ”Indonesia Country Gender Assessment: Investing in Opportunities for Women” pada 2020 menyebutkan, selama dua dekade, tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan hanya 52 %, sedang laki-laki sudah di atas 80 %. Laporan studi ”Perempuan Pekerja Informal dalam Ekonomi Digital” oleh Micro Save Consulting dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Mei 2024) mengakui, meski jumlah pekerja perempuan masih lebih rendah dibanding laki-laki, pekerja perempuan besar kemungkinannya untuk menjadi pekerja informal. Sekitar 66 % atau 54,5 juta pekerja informal di Indonesia merupakan perempuan. Upah/gaji bersih yang diterima sebulan oleh buruh/karyawan/pegawai laki-laki dan perempuan juga cenderung masih ada ketimpangan.
Data BPS pada periode 2021-2024 memperlihatkannya. Pada Agustus 2021 di Provinsi Jakarta, nilai rata-rata upah/gaji bersih yang diterima buruh/karyawan/pegawai laki-laki mencapai Rp 4,2 juta per bulan, sedang perempuan Rp 3,6 juta per bulan. Pada Agustus 2024, nilai rata-rata yang diterima laki-laki Rp 6,1 juta per bulan dan perempuan Rp 5,1 juta per bulan. Indonesia, sesuai laporan Bank Dunia berjudul ”Indonesia Country Gender Assessment: Investing in Opportunities for Women (2020)” telah berkomitmen pada tujuan G20 untuk meningkatkan partisipasi kerja perempuan sebesar 25 % atau menjadi 58,8 % pada 2025. Jika komitmen ini dapat dicapai, pertumbuhan PDB Indonesia diperkirakan meningkat 0,67 % atau 123 miliar USD (setara 432 USD per kapita) pada 2025. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023