Barang Mewah ”Aspal” dan Keinginan memiliki Barang Mewah Tanpa Menguras Isi Dompet
Di pelantar Tiktok, tengah viral orang-orang yang mengaku sebagai pemilik pabrik di China. Mereka mengklaim, tas dan kosmetik jenama Eropa atau AS umumnya dibuat di China, lalu dikirim ke Perancis atau Italia untuk dilabeli ”buatan Perancis” atau ”buatan Italia”, dikemas, lalu dijual di butik dengan harga selangit. ”Modal membuat tas (Hermés) Birkin itu cuma 1.000 USD. Di butik, harganya minimal 10.000 USD. Ayo, sini, beli sama saya saja,” kata akun @NewsNexus yang diakses Selasa (15/4). Demikian pula video-video dari orang-orang yang mengaku membuat tas untuk jenama Christian Dior, Prada, Chanel, dan Yves Saint Laurent. Louis Vuitton Moet Hennessy (LVMH) adalah perusahaan induk untuk 75 jenama, antara lain Celine, Givenchy, Louis Vuitton, Fendi, Kenzo, Loewe, dan Marc Jacobs, pabrik tas mereka ada di Saint-Pourçain-sur Sioule, Perancis, dan Firenze, Italia.
Kering, korporasi Perancis, adalah induk dari Yves Saint Laurent, Bottega Veneta, Gucci, dan Balenciaga. Pabrik-pabrik di bawah Kering berada di Swiss dan Italia. Hermés lebih ketat. Mereka memusatkan produksi di Perancis. Tepatnya di Pantin, Lyon, Ardenne, dan Normandy. Berdasarkan liputan Newsweek, Hermés memproduksi dari awal sampai akhir, dari menyamak kulit sampai membuat produk jadi. Butuh waktu 15 hingga 40 jam untuk membuat satu tas Hermés, baik model Birkin, Kelly, maupun Constance. Perajinnya harus mengikuti pelatihan lima tahun sebelum memegang produksi. Uni Eropa memiliki peraturan ketat mengenai pemasangan label. Bagi Perancis dan Italia, aturan untuk produk mode sangat ketat karena jadi sektor unggulan dan bersejarah. Cap Origine France Garantie (OFG) di Perancis berarti mayoritas bagian produk dibuat di Perancis dan mayoritas biayanya datang dari Perancis.
Banyak unggahan di media sosial mengatakan, kalangan ini hanya membeli tas karena berjenama tenar dan mewah tanpa mengerti cita rasa seni dan keahlian yang diperlukan untuk membuatnya. Video-video itu juga mempreteli proses pembuatan tas mewah. Betul, tas Kelly dibuat dari kulit sapi bermutu tinggi dengan jahitan kuat dengan kreasi tangan-tangan terampil di Perancis. Namun, layakkah tas itu dihargai 60.000 USD (Rp 1 miliar). Rumah mode selalu memproduksi dengan jumlah terbatas guna menjaga agar produk mereka tidak pasaran. Ini yang membuat ongkos produksi lebih mahal, selain upah pekerja di Eropa yang lebih tinggi daripada di China. ”Kalian itu membeli karena logonya. Jika kalian mau produk dari bahan yang sama, dengan harga sepersepuluh, bahkan kurang, silakan ke kami,” kata salah satu video yang diedarkan ulang di X. Namun tas itu tidak diberi logo Hermés, Dior, Chanel, atau apa pun.
Warganet AS umumnya memuji China tidak tunduk pada pukulan tarif 145 % yang ditetapkan Trump. Warganet juga menertawai diri sendiri yang menyukai produk karena jenama dan logo. ”Boleh juga cara China mengejek kita,” cuit seorang warganet AS. Bukan rahasia bahwa China memproduksi barang-barang ”aspal” alias asli tetapi palsu. Barangnya dibuat dengan bahan sama dengan produk asli, tetapi di pabrik yang bukan dilisensi oleh jenama terkait. Kadang-kadang, dilabeli dengan nama yang meleset dari jenama asli, misalnya Adiads, Neki, Cnovesre, dan Birkinstick. Kadin AS mendata, 86 % barang palsu global berasal dari China. ”Munculnya produk palsu ini sejalan dengan psikologis konsumen yang menyandingkan suatu jenama dengan kemewahan ataupun gaya hidup keren. Mereka menginginkan tampilan dan logo tanpa menghabiskan isi dompet,” tulis lembaga tersebut. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023