;

Pemerintah Bersiap Intervensi untuk Meredam Gejolak Pasar

07 Apr 2025 Kompas
Pemerintah Bersiap Intervensi untuk Meredam Gejolak Pasar

Selain memukul sektor riil, pemberlakuan tarif resiprokal AS bisa mengguncang sektor keuangan di Tanah Air dan nilai tukar rupiah. Dibutuhkan intervensi pasar untuk meredam gejolak. Senior Economi PT Samuel Sekuritas Indonesia, Fithra Faisal Hastiadi berkata, rupiah berada di bawah tekanan dan diperdagangkan dalam rentang Rp 16.700-Rp 17.000 per USD. Dibutuhkan intervensi moneter agar rupiah stabil di kisaran Rp 16.400 per USD. Berdasar analisis impulse response function (IRF), setiap 1 miliar USD yang digunakan dari cadangan devisa diperkirakan bisa mengapresiasi rupiah sekitar 100 poin. Maka, untuk membawa apresiasi rupiah hingga 500 poin, dari Rp 16.900 ke Rp 16.400 per USD, dibutuhkan dana 5 miliar USD. ”Lebih baik (melakukan) intervensi karena efek rupiah bisa lebih psikologis ketimbang teknis. Asalkan BI melakukannya dengan kejutan karena efek shock atau impulse akan lebih efektif,” katanya, Minggu (6/4).

Intervensi valas dapat menjadi alat efektif mengelola volatilitas rupiah dalam jangka pendek hingga menengah. Ada dua tahap strategi yang disarankan, yakni intervensi pada periode April dan Mei 2025. Pada April 2025, intervensi BI sebesar 2 miliar USD-3 miliar USD dinilai akan menjadi sinyal kuat kepada pasar serta menjaga ekspektasi dan mengurangi tekanan spekulatif. Langkah intervensi berikutnya adalah pada Mei 2025 BI bisa menggelontorkan 2 miliar USD sembari melihat perkembangan pasar, indikator makroekonomi, dan perilaku arus modal. Namun, intervensi itu perlu diimbangi penguatan cadangan devisa, baik dengan mengamankan jalur swap bilateral maupun multilateral untuk memberi kepercayaan tambahan kepada pasar sekaligus menjaga kemampuan bank sentral merespons guncangan eksternal di masa depan. (Yoga)


Download Aplikasi Labirin :