;

Tarif Trump, Peluang atau Hambatan

Ekonomi Yoga 07 Apr 2025 Kompas
Tarif Trump, Peluang atau
Hambatan

”Badai tarif” yang diembuskan Presiden AS, Donald Trump pada Rabu (2/4) petang waktu Washington DC atau Kamis (3/4) pagi waktu Jakarta diberlakukan bagi banyak negara yang menjadi mitra dagang AS, termasuk semua negara ASEAN. Oleh Trump, Kamboja diganjar tarif baru impor 49 5, Laos 48 %, Vietnam 46 %, Thailand 36 %, Indonesia 32 %, Malaysia dan Brunei masing-masing 24 %, Filipina 10 % dan Singapura 10 %. Nilai perdagangan AS-ASEAN memang cenderung ”menguntungkan” negara-negara anggota perhimpunan itu. Total nilai perdagangan AS-ASEAN pada tahun 2024 mencapai 476,9 miliar USD dengan rincian ekspor AS ke ASEAN sebesar 124,6 miliar USD dan impor AS dari ASEAN 352,3 miliar USD. ASEAN mengalami surplus dalam perdagangan dengan AS. Secara global, AS mengalami defisit perdagangan barang sebesar 1,2 triliun USD dengan 92 negara (Kompas, Jumat, 4 April 2025). Meski AS mencatatkan surplus dengan 111 negara lainnya, Trump terlanjur merasa AS selama ini diperlakukan tidak adil.

Sejumlah pemimpin negara segera menghubungi Trump. Mereka menawarkan diri untuk bernegosiasi, salah satunya Sekjen Partai Komunis Vietnam To Lam. Vietnam, sebagaimana disampaikan To Lam, akan memangkas tarif impor produk-produk asal AS dengan kompensasi yang sama. Trump menyambut tawaran itu dengan hangat. Vietnam sangat terpengaruh oleh tarif itu. AS merupakan tujuan utama ekspor Vietnam. Pada tahun 2024, negeri itu mencatat surplus perdagangan 123 miliar USD terhadap AS. Tak heran, Hanoi perlu ”membujuk” Trump mengurangi tekanannya. Menurut peneliti pada The Habibie Center dan dosen Hubungan Internasional UI, Shofwan Al Banna Choiruzzad, praktik yang dilakukan Trump sejatinya ”berbahaya”. Trump secara sepihak memaksa negara-negara mitra dagangnya untuk menurut pada kehendak AS.

”Dampak besar kebijakan tarif itu adalah runtuhnya rejim perdagangan multilateral dan memberi tekanan pada ekonomi global,” kata Shofwan. Negosiasi menjadi langkah jangka pendek yang bisa ditempuh. Namun, untuk jangka panjang, perlu ada sikap lebih tegas dari negara-negara di dunia. Rongrongan seperti itu tak bisa dibiarkan lantaran bisa saja ditiru kekuatan utama dunia lainnya, yaitu China. Menurut peneliti Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Deni Friawan, Indonesia perlu segera menuntaskan Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif dengan Uni Eropa. Sepanjang tahun 2024, total nilai perdagangan Indonesia-Uni Eropa 27,6 miliar USD dengan surplus 4,4 miliar USD. Artinya, ada potensi atau alternatif pasar selain AS. Catatan itu memperlihatkan ada sejumlah alternatif yang dapat dioptimalkan Indonesia ataupun ASEAN dengan beragam platform yang tersedia. (Yoga)


Download Aplikasi Labirin :