Bisnis Tertekan Akibat Persaingan dan Kelesuan Ekonomi
PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) menghadapi tantangan berat akibat pemangkasan anggaran infrastruktur dan persaingan ketat di industri semen. Pemotongan anggaran Kementerian Pekerjaan Umum dan proyek IKN Nusantara turut menekan permintaan semen curah, yang berimbas pada prospek bisnis SMGR.
Menurut Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Miftahul Khaer, akuisisi Semen Baturaja oleh SMGR belum berdampak signifikan dalam meningkatkan pangsa pasar, berbeda dengan Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) yang memperkuat posisi dengan akuisisi Semen Singa Merah dan Grobogan. Ia menyarankan wait and see terhadap saham SMGR dengan target harga Rp 2.870 per saham.
Analis BRI Danareksa Sekuritas, Richard Jerry, memperkirakan pertumbuhan volume penjualan semen nasional sebesar 2,3% yoy pada 2025, dengan semen curah naik 8%, sementara semen kantong turun tipis -0,3%. Namun, daya beli yang masih lemah dan program pemerintah yang belum berjalan maksimal membuat tren penjualan semen dalam negeri masih stagnan.
Sementara itu, Analis Maybank Sekuritas Indonesia, Kevin Halim, menyoroti penurunan pangsa pasar SMGR meskipun telah mengakuisisi Semen Baturaja (SMBR) pada 2023. Akuisisi hanya menambah 2%-2,5% pangsa pasar, yang tetap lebih rendah dibandingkan sebelum pandemi. Menurutnya, jaringan pabrik yang luas malah menjadi beban saat permintaan lesu, karena biaya pemeliharaan meningkat.
Ketiga analis ini memiliki pandangan hati-hati terhadap prospek SMGR, dengan rekomendasi hold dan wait and see atas sahamnya.
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023