;

Antara Menyambung Nyawa dan Menyabung Hidup, Balada Sopir Truk

Ekonomi Yoga 10 Feb 2025 Kompas
Antara Menyambung Nyawa dan Menyabung Hidup, Balada Sopir Truk
Tragedi truk menabrak kendaraan lain di Gerbang Tol Ciawi 2, Kota Bogor, Jawa Barat, kembali membuka masalah lama tak kunjung usai. Pengemudi truk rentan menjadi kambing hitam di antara beban kerja berlebihan dan minimnya perlindungan kerja bagi mereka. Mengemudikan truk bagi Nurul (30) bukan semata soal rem, pedal gas, sistem kemudi, atau kopling. Jauh dari itu, menjadi sopir truk adalah hidup itu sendiri. ”Pernah saya terjebak di jalan tanah berlumpur, hujan badai, mobil ndak bisa jalan. Nginep,” ujar Nurul di sebuah bengkel truk di Kilometer 10 Balikpapan, Kalimantan Timur, Jumat (7/2/2025). Pria asal Lamongan, Jawa Timur, itu menjadi sopir truk untuk pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) sejak 2019. Tugasnya melangsir material bangunan, seperti batu, pasir, dan koral. Kebanyakan, ia mengangkut material dari pelabuhan di Balikpapan dan Kutai Kartanegara ke IKN. Jaraknya sekitar 100 km.

Dengan tugas penting tersebut, jalan yang mesti ia lalui tak selalu mulus. Bahkan, kebanyakan berupa jalan tanah yang baru dibuka. Hal itu menjadi masalah saat hujan datang. Dengan beban berat, tak jarang ia mesti memasrahkan hidup pada alam. ”Kalau terjebak di tengah jalan berlumpur, ya, sudah. Jalan kaki cari warung atau tempat makan. Pernah satu jam jalan kaki baru dapat warung,” katanya. Warung, bagi Nurul, adalah tempat penting untuk disinggahi. Ia mesti menjaga perutnya terisi sekaligus menambah logistik makanan untuknya sendiri. Hal tersebut mesti ia lakukan karena ia tak didampingi kernet. Saat hujan reda pun belum tentu Nurul bisa keluar dengan mudah dari jalan berlumpur. Tidak jarang ia harus menunggu sampai siang hari, menunggu matahari membantu mengeringkan jalan. Jika demikian, ia harus terus berkomunikasi dengan atasannya. Sebab, bahan bangunan yang ia bawa adalah bahan pokok untuk batching plant, produksi beton siap pakai. Nyaris 24 jam tempat pengolahan beton itu beroperasi lantaran untuk kebutuhan pembangunan IKN.

Jalan neraka Sopir truk lain, Husain (42), sudah melakoni pekerjaannya setidaknya 10 tahun terakhir. Ia mengangkut batu koral untuk berbagai proyek bangunan di sekitar Kota Balikpapan. ”Buat saya, nyopir itu hidup dan mati, Bang. Kalau ndak nyopir, ndak makan. Kalau nyopir ndak hati-hati, bisa kecelakaan. Mati kita, ha-ha-ha,” ujarnya. Soal hidup-mati itu, ia mencontohkan, jalur yang ia lalui adalah jalur di mana kerap terjadi kecelakaan. Bahkan, sangat spesifik, kecelakaan truk. Jalur itu Simpang Muara Rapak di Kota Balikpapan. Kecelakaan maut terjadi di lokasi tersebut pada 21 Januari 2022. Truk kontainer hilang kendali lantaran rem blong di jalan menurun. Kecelakaan maut itu menyebabkan empat korban jiwa dan 31 luka-luka. Pemerintah Kota Balikpapan saat ini sudah membangun jalur evakuasi di jalan tersebut dan membuat rekayasa pemisahan kendaraan besar dan kecil. Namun, pada Mei 2023, kecelakaan terulang lagi. Satu truk hilang kendali saat melalui jalan menurun sampai menabrak sebuah toko. (Yoga)