Timbangan Kelapa Sawit Indonesia akankah Besar Pasak dari Tiang
Dalam lima tahun terakhir, produksi minyak kelapa sawit nasional tumbuh stagnan. Berbarengan dengan itu, konsumsi atau kebutuhan dalam negeri minyak kelapa sawit terus meningkat. Apakah timbangan sawit Indonesia bakal besar pasak daripada tiang? Pengurus Dewan Nasional Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS) Mansuetus Darto mengatakan, tahun ini, Indonesia diperkirakan mengalami defisit minyak kelapa sawit sebanyak 1,04 juta ton. Faktor utama yang memengaruhi defisit itu ialah peningkatan permintaan kebutuhan program biodiesel 40 persen (B40) dan Makan Bergizi Gratis yang digulirkan mulai awal tahun ini. Program B40, misalnya, membutuhkan bahan baku CPO sebesar 14,8 juta ton pada 2025. Kebutuhan bahan baku itu meningkat 31,3 persen dibandingkan dengan kebutuhan CPO program B35 pada 2024. Sementara produksi minyak kelapa sawit tahun ini diperkirakan turun 5,1 persen dibandingkan dengan tahun lalu.
”Penurunan produksi minyak sawit itu disebabkan penurunan produktivitas kelapa sawit karena sebagian besar tanaman sawit sudah masuk usia nonproduktif,” ujarnya (Kompas, 14/1/2025). Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Eddy Martono, Jumat (17/1/2025), berpandangan, neraca produksi konsumsi minyak sawit nasional tahun ini diperkirakan masih proporsional. Namun, jika program B40 diterapkan secara penuh dan terus meningkat dari tahun ke tahun, serta tanpa diikuti peningkatan produksi, defisit minyak sawit dapat terjadi. Dalam lima tahun terakhir, produksi minyak sawit nasional tumbuh stagnan. Gapki mencatat, produksi minyak kelapa sawit mentah (CPO) dan minyak inti kelapa sawit (PKO) pada 2017-2023 berkisar 50 juta ton hingga 55 juta ton. Bahkan, pada 2024, produksi CPO dan PKO turun 4,3 persen menjadi 52,45 juta ton dibandingkan dengan 2023.
”Tahun ini, produksi kedua komoditas itu diperkirakan meningkat menjadi 53,63 juta ton. Hal itu berkat peremajaan kelapa sawit yang didominasi perusahaan-perusahaan besar,” tuturnya. Namun, lanjut Eddy, konsumsi atau kebutuhan minyak sawit terus meningkat dari tahun ke tahun. Peningkatan B35 menjadi B40 akan mendongkrak kenaikan biodiesel dari 11,1 juta ton pada 2024 menjadi 13,58 juta ton pada 2025. Kebutuhan minyak kelapa sawit untuk pangan juga diperkirakan bertambah dari 10,19 juta ton pada 2024 menjadi 10,29 juta ton pada 2025. Dalam periode perbandingan yang sama, kebutuhan minyak kelapa sawit untuk industri oleokimia juga bakal naik dari 2,23 juta ton menjadi 2,26 juta ton. ”Di tengah peningkatan kebutuhan dalam negeri, ekspor produk turunan sawit diperkirakan justru turun dari 28,85 juta ton pada 2024 menjadi 27,5 juta ton. Hal itu seiring dengan perlambatan permintaan global dan semakin ketatnya persaingan dengan minyak nabati lain,” katanya. (Yoga)
Tags :
#SawitPostingan Terkait
Titik Balik Lifting Minyak Bumi
28 Jun 2025
Bulog Ajukan Tambahan Modal Rp 6 Triliun
26 Jun 2025
Potensi Tekanan Tambahan pada Target Pajak
26 Jun 2025
Amankan Pasokan BBM Dalam Negeri
25 Jun 2025
Lonjakan Harga Komoditas Panaskan Pasar
24 Jun 2025
Perjuangan Jakarta untuk Tumbuh 6% di 2026
23 Jun 2025
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023