Perang Dagang Memicu Risiko pada Perdagangan Global
Pada Desember 2024, Indonesia mencatatkan surplus neraca perdagangan barang sebesar US$2,24 miliar, meskipun mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai US$4,42 miliar. Penopang utama surplus ini berasal dari perdagangan dengan Amerika Serikat (AS) dan India, dengan ekspor komoditas utama seperti bahan bakar mineral, besi dan baja, serta kendaraan. Pelaksana Tugas Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Amalia Adininggar Widyasanti, mengungkapkan bahwa AS dan India menjadi mitra dagang terbesar Indonesia sepanjang 2024.
Namun, Indonesia menghadapi tantangan dari potensi perang dagang antara AS dan China yang dapat memengaruhi kinerja ekspor. Menteri Perdagangan Budi Santoso menyatakan bahwa Indonesia siap menghadapi situasi perdagangan ini. Sementara itu, Ketua Umum Apindo, Shinta W. Kamdani, menilai bahwa perubahan kebijakan perdagangan AS di era Presiden Donald Trump bisa menjadi peluang bagi Indonesia dalam hal perdagangan dan investasi, meskipun tantangan tetap ada.
Ekonom dari Center for Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda, memprediksi bahwa kebijakan Trump yang melibatkan perang dagang dengan China dapat menghambat perekonomian Indonesia, terutama dalam sektor ekspor, karena penurunan permintaan dari pasar China dan AS. Dampak dari kebijakan ini bisa menekan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang sebelumnya hanya tumbuh sekitar 5% selama periode pertama pemerintahan Trump.
Tags :
#Perang DagangPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023