Buah Lokal Butuh Replikasi Model Bisnis Berbasis Data
Permintaan buah-buahan, baik pasar dalam negeri maupun ekspor meningkat selama pandemi Covid-19, Situasi ini membuka peluang untuk memacu produksi buah lokal. Namun, pengembangan buah membutuhkan model bisnis berbasis data agar peluang pasar itu bisa bisa dimanfaatkan lebih optimal.
Direktur utama pasar komoditi nasional (paskomnas) Hartono Wignjopranoto menyatakan, pasar induk memerlukan data buah-buahan serta kebutuhan konsumen. Data ini penting bagi setiap pelaku dalam rantai pasok, termasuk petani dan pedagang pasar agar tercipta harga yang adil. Berdasarkan data yang dihimpun Paskomnas, fluktuasi harga buah-buahan tergolong tinggi yakni lebih dari 10 kali lipat. Harga mangga arummanis misalnya bergerak dikisaran Rp 2.500-Rp 30.000 per kg; melon dikisaran Rp 4.000-Rp 15.000 dan buah naga Rp 5.000-Rp 25.000 per kg.
Ketua Komisi Tetap Holtikultura kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Karen Tambayong menyoroti nilai impor buah-buahan yang lebih tinggi dibandingkan dengan ekspornya. Tahun 2019, menurut BPS nilai impor buah-buahan Indonesia mencapai 1,48 miliar dollar AS, sementara ekspornya 323,5 juta dollar AS. Sepanjang Januari-Juni 2020, Menteri Perdagangan Agus Suparmanto menyebutkan ekspor buah-buahan mencapai 430,4 juta dollar AS. Angka ini 23,21% lebih tinggi daripada periode yang sama tahun sebelumnya.
Tags :
#Makanan dan MinumanPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023