Obral Diskon untuk Mendongkrak Daya Beli Konsumen yang Melemah dan untuk Mendorong Ritel yang Tertekan
MENJELANG akhir tahun, pemerintah dan pelaku usaha mencoba mendorong pertumbuhan bisnis retail yang tertekan akibat melemahnya daya beli masyarakat. Sejumlah program pemberian diskon barang dilakukan untuk meningkatkan daya beli masyarakat sekaligus menggairahkan kembali bisnis retail. Asosiasi Pengusaha Retail Indonesia (Aprindo) bersama Kementerian Perdagangan menggelar program Every Purchase is Cheap (EPIC) yang menawarkan potongan harga hingga 70 persen. Potongan harga dalam program EPIC Sale berlaku untuk enam bahan pokok, yaitu beras, gula, minyak goreng, telur, bawang merah, dan bawang putih.
Langkah ini juga bertujuan meredam kenaikan harga bahan pokok selama periode Natal dan tahun baru. Program ini berlaku pada 22-31 Desember 2024 di semua retail modern anggota Aprindo. Targetnya, dalam 11 hari, omzet penjualan retail bisa menembus Rp 14,5 triliun. "Kami berharap potongan harga dapat mendongkrak penjualan di tengah kondisi ekonomi saat ini," ujar Ketua Umum Aprindo Solihin pada Rabu, 25 Desember 2024. Lewat program EPIC Sale, ia berharap dapat terjadi peningkatan belanja sebesar 8 persen di tengah penurunan konsumsi rumah tangga saat ini.
Pada kuartal III 2024, Badan Pusat Statistik mencatat konsumsi rumah tangga sebesar 4,91 persen atau tumbuh melambat dibanding pada kuartal II yang sebesar 4,93 persen. Pertumbuhan konsumsi rumah tangga pada kuartal III 2024 juga turun dibanding periode yang sama pada tahun lalu yang sebesar 5,05 persen. Solihin mengatakan pelemahan daya beli masyarakat memang berpengaruh signifikan terhadap sektor retail. Hal ini ditunjukkan dengan perubahan pola belanja masyarakat. Kini konsumen cenderung memilih produk dengan harga terjangkau, bahkan mengurangi jumlah barang yang dibeli. Aprindo mencatat nilai transaksi di retail modern merosot 20-30 persen tahun ini. Selain itu, lebih dari 400 gerai retail tutup, terutama akibat kenaikan biaya sewa yang drastis. Pertumbuhan bisnis retail pun diproyeksikan menurun, dari 5,3 persen pada 2023 menjadi 4,8 persen pada 2024. (Yetede)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023