Bisnis Ritel 2025 Dihadang Banyak Tantangan
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo), Solihin, memprediksi bahwa tahun 2025 akan menjadi tahun penuh tantangan bagi sektor ritel, terutama akibat kenaikan upah minimum nasional (UMP) sebesar 6,5%. Ia menilai kenaikan UMP tersebut tidak sejalan dengan daya beli masyarakat yang melemah dan kondisi ekonomi global yang terkontraksi. Meski demikian, ia menegaskan bahwa pelaku usaha tidak dapat menolak keputusan kenaikan UMP tersebut.
Solihin, yang juga menjabat sebagai Corporate Affairs Director PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (Alfamart), menyebut bahwa pengusaha ritel kemungkinan besar akan mengambil langkah efisiensi sebagai respons terhadap tantangan ini. Efisiensi tidak selalu berarti pemutusan hubungan kerja (PHK), melainkan dapat berupa langkah seperti penutupan gerai yang merugi akibat tingginya biaya operasional, seperti sewa, sementara penjualan melemah.
Ia mengungkapkan bahwa Alfamart, misalnya, telah menutup 300–400 gerai sepanjang tahun ini karena kerugian, meskipun pada saat yang sama perusahaan juga membuka gerai baru di lokasi lain dengan prospek lebih baik. Hal ini mencerminkan strategi untuk menyeimbangkan bisnis di tengah kondisi ekonomi yang sulit.
Dengan kondisi tersebut, Solihin menekankan bahwa pelaku usaha ritel harus mampu beradaptasi dan mengelola efisiensi dengan bijak agar tetap bertahan di tengah tantangan ekonomi dan regulasi yang ada.
Tags :
#RitelPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023